Terinspirasi Game Online, Belajar Sambil Susun Segitiga dan Dengarkan Musik

 
MALANG - METODE mengajar guru menerangkan dan siswa mendengarkan di kelas sering dirasakan membosankan bagi siswa. Untuk menghidupkan suasana belajar di dalam kelas, beberapa guru di SMP Brawijaya Smart School menerapkan sistem pembelajaran yang aktif di kelas berbasis permainan, dan kompetisi untuk beberapa mata pelajaran. Metode pembelajaran itu menggunakan media pembelajaran inovatif yang diberi nama segitiga tarsia, yang diterapkan sejak awal semester ini. 
Salah satu pelajaran yang menerapkan metode pembelajaran dengan media segitiga Tarsia, adalah pelajaran IPA, yang dipandu oleh guru bernama Ervan S.Pd , MCs. Ia adalah guru yang kali pertama menerapkan metode pembelajaran ini di kelas VII.
Ervan adalah guru baru, awal masuk ke kelas, ia belum menemukan suasana kelas yang menurutnya kondusif. Karena masih dalam tahap beradaptasi, ia perlu mencari model pembelajaran yang efektif. Sedikit berdiskusi dengan kepala sekolah, ia akhirnya menemukan sebuah ide, untuk menerapkan metode segitiga tarsia ini.
Model pembelajarannya adalah, setiap kelas dibagi menjadi enam kelompok, masing-masing kelompok empat siswa. Masing-masing kelompok diberikan amplop, yang isinya adalah potongan-potongan segitiga dan kertas HVS putih untuk menempel hasil segitiga besar. Potongan segitiga tersebut, ada pertanyaan dan juga jawaban. Potongan segitiga ini harus disusun menjadi segitiga berukuran besar. Jika ada satu jawaban yang salah, segitiga besar tidak akan terbentuk.
Kali pertama Ervan menerapkan metode ini, langsung mendapat respon positif dari siswanya. Ia juga senang melihat suasana kelas yang tidak lagi membosankan karena metode mengajar yang konvensional, yakni guru menerangkan dan siswa mendengarkan. Menurutnya suasana seperti ini bisa lebih membuat siswa menjadi bersemangat.
“Saya menerapkan metode ini di pertemuan ketiga. Setelah saya memikirkan ide dan membuat segitiga-segitiga itu. Awalnya yang saya terapkan adalah pelajaran rumus-rumus fisika dan kimia,” ungkap Ervan.
Ia berpikir, dengan menerapkan metode rumus yang cukup membosankan, akan lebih menarik bagi siswa ketika dibuat seperti permainan. Hobi game onlinenya makin memantapkan idenya.
Alhasil, setelah ia menerapkan metode itu di kelas dalam mata pelajaran fisika, yang identik dengan rumus-rumus, siswanya lebih antusias dan bersemangat ketika pelajaran itu.
“Ternyata anak-anak mempunyai jiwa-jiwa kompetisi, itulah yang membuat  saya jadi termotivasi untuk membuat lebih banyak lagi potongan segitiga kecil,” ungkap guru yang baru satu tahun bekerja itu.
Tidak hanya bermain menyusun pertanyaan dan jawaban pada segitiga, ia juga membunyikan alunan music, sesuai permintaan siswa, untuk lebih mengidupkan suasana. Cara belajar seperti itu, membuatnya yang waktu itu baru beberapa hari menjadi guru, senang mengajar di kelas.
Semangat siswanya itu nampak terlihat, ketika mata pelajaran Biologi pada pukul 11.25 WIB. Siang itu, siswanya nampak antusias, ketika akan dibagikan segitiga untuk Kompetensi Dasar alat reproduksi manusia. Ervan ternyata sudah mengingatkan siswa untuk belajar pada malam harinya untuk bekal. Sebab, siswa yang mengikuti permainan ini juga dijadikan sebagai nilai  ulangan harian tambahan. 
“Sesuai jadwal, kita hari ini akan belajar teka-teki untuk menyusun segitiga besar dari KD Reproduksi manusia. Semua sudah belajar kan,” teriak Ervan begitu memasuki kelas.
Usai dibagikan, siswa terlihat sangat bersemangat menyusun segitiga. Kelompok siswa yang berhasil menyusun segitiga dan ditempelkan pada HVS kosong, terlihat tenang. Mereka tinggal menunggu isntruksi berikutnya.
Model pembelajaran dengan media ini juga diikuti oleh beberapa guru mata pelajaran, diantaranya adalah mata pelajaran Kewarganegaraan, Matematika, dan IPS. Ervan berharap, metode ini bisa digunakan untuk mata pelajaran lainnya. (sinta/oci)

Berita Lainnya :