Unisma Gelar Seminar Islam Nusantara

MALANG - Universitas Islam Malang (Unisma) akan menggelar acara seminar nasional Islam Nusantara, hari ini. Acara ini menghadirkan tokoh-tokoh Islam serta para akademisi agama islam sebagai pembicara. Acara seminar nusantara ini bertujuan untuk memberikan paradigma baru bagi islam di Indonesia, ditengah banyaknya konflik serta semakin maraknya paham radikalisme.
"Meski  umat Islam sebagai mayoritas, tapi tidak memaksakan untuk menjadi negara yang berdasarkan syariat Islam. Itulah yang disebut Islam nusantara," kata salah satu pemateri, Prof Dr Maskuri M.Si.
Tokoh yang dijadwalkan hadir yakni Ketua Badan penelitian dan pengembangan dan diklat kementerian agama Prof H. Abdurrahman Mas'ud. PhD, yayasan Unisma KH. Tholhah Hasan, Rektor UIN Maliki Malang Prof Abdul Haris, Staff khusus menteri sosial Prof Dr Mas'ud said, tokoh budayawan Dr suyoto M.pd, pengurus besar NU Prof. Dr. Kasui saiban.
Maskuri dalam paparannya, hari ini, mengajak untuk tetap berpegang teguh pada NKRI. Jangan sampai Islam sebagai agama menjadi sumber pemecah belah.
"Kita harus segera melakukan langkah konkrit untuk menghindari adanya anggapan yang justru kontraproduktif dan memandang wacana Islam Nusantara sebagai bentuk pemecah belah dan pengkotak-kotakkan Islam. Oleh sebab itu melalui seminar ini kita lakukan langkah kongkrit itu," bebernya.
Ia menyebut tantangan umat Islam ke depan adalah radikalisme yang  kini mulai berkembang dan subur pasca pecahnya konflik di Timur Tengah.
Ia mengatakan, output dari radikalisme  adalah kekerasan. Pemahaman yang berbahaya dari gerakan radikalisme adalah menganggap orang yang di luar mereka adalah kafir dan wajib diperangi. Hal ini menjadi stimulus untuk melakukan kekerasan atas nama kepentingan agama.
"Tugas NU adalah mengembalikan domain agama pada tempatnya yakni sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam. Islam yang membimbing, merangkul dan mangajarkan keramahan dalam menghadapi persoalan," kata dia.
Maskuri menyebutkan, Islam tidak mengajarkan pembunuhan, penyiksaan bahkan pemerkosaan. Itu bukan ajaran Islam yang sesungguhnya.
Ia menjelaskan wacana Islam Nusantara menjadi gagasan dan aspirasi  umat mengenai identitas Islam di Indonesia kini tengah menjadi perbincangan dunia.
Dunia seakan tengah menempatkan Islam Indonesia sebagai model peradaban Islam modern. “Tidak mungkin peradaban muncul dari daerah yang berkonflik seperti Timur Tengah, maka Indonesia menjadi model keislaman yang tepat,” terangnya.
Ia berharap penyelenggaraan seminar ini dapat memberi wawasan baru terkait pengembangan wacana Islam Nusantara. (sin/adv/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :