Gemakan Salawat, Berharap Generasi Muda Tak Kehilangan Figur Idola


PERINGATAN Maulid Nabi di SMA Islam Malang menjadi agenda rutin yang tak hanya sekadar perayaan biasa. Gema salawat yang dilantunkan diharapkan menjadi penguat karakter generasi muda di sana. Keteladanan dari sifat nabi dikenalkan kepada siswa, agar mereka tak kehilangan figur idola.
Salawat Nabi menggema di SMA Islam Malang, Kamis pagi, (30/11). Lantunan salawat dikumandangkan dalam rangka memperingati Maulid Rasulullah Muhammad SAW yang digelar di halaman sekolah Jalan Kartini ini. Seluruh guru dan siswa tampak khusyuk mengikuti rangkaian kegiatan yang terlaksana dengan khidmat. Diawali dengan bacaan salawat nabi dan tilawatil quran oleh siswa, Maulid Nabi dilanjutkan dengan tausiyah agama sebagai inti acara oleh Anas Fauzi, S.Ag M.Pd.
Kepala SMA Islam Drs. Sularto, M.Pd  mengatakan maulid nabi merupakan agenda keislaman yang rutin digelar sekolah untuk memupuk kecintaan guru dan siswa kepada Rasulullah SAW. Imbasnya akan memperkuat keimanan kepada Allah SWT, sehingga semakin memperkokoh nilai ketakwaan civitas SMA Islam.
"Harapan utamanya bagaimana siswa dapat meneladani Rasulullah sebagai contoh dan figur dalam kehidupan sehari-hari," ucapnya.
Di tengah kehidupan global seperti saat ini, generasi muslim mulai kehilangan figur. Tanpa adanya penguatan iman yang melandasi karakter mereka maka patut dikhawatirkan generasi muda akan melangkah ke arah yang menyimpang dari aturan agama.
"Maka maulid nabi ini, juga merupakan upaya penguatan karakter keislaman," imbuhnya.
Dalam tausiyahnya, Anas Fauzi menjelaskan sebagai umat Islam hendaknya para siswa mencintai Nabi Muhammad. Dengan cinta nabi, maka mereka akan termasuk golongannya. Adapun golongan umat yang cinta rasulullah antara lain memiliki sikap cinta dan hormat kepada orang tua. "Orangtua itu ada tiga kategori, yaitu orang yang melahirkan dan membesarkan kita, orang yang mengajarkan kita ilmu dan orangtua dari istri atau suami kita," jelas Anas. "Jadi guru termasuk yang harus kita hormati dan kita taati," sambungnya.
Adapun ciri lain dari umat Rasulullah, lanjut Anas, adalah mereka yang tidak merendahkan sunnah. Artinya, selain menjalankan ibadah wajib, mereka juga tekun menjalankan ibadah-ibadah sunnah. "Golongan orang yang cinta nabi dibuktikan dengan kecintaan mereka kepada amalan sunnah," tegasnnya.
Menurutnya, jika kecintaan hanya sebatas lisan, maka itu artinya kepalsuan. Sebab cinta seseorang perlu dibuktikan dengan sikap konkrit yang menunjukkan kecintaannya. Demikian dengan cinta kepada Rasulullah, perlu ditunjukkan dengan ketaatan pada ajarannya.
Dalam hal ini, Anas memberikan ilustrasi. "Jika seseorang yang bukan tentara, tapi menggunakan atribut lengkap seorang tentara, apakah dia berani masuk ke markas tentara?. Tentu saja takut. Karena dia sadar bahwa dirinya tentara palsu. Demikian dengan seseorang yang mengaku umat Rasul, tapi tidak mengikuti sunnahnya, itu juga palsu," tuturnya.
Kepala KUA Kecamatan Lowokwaru ini juga mengatakan, istimewanya ibadah seseorang juga tergantung pada nilai ibadah sunnahnya. Jika ibadah yang dikerjakan hanya yang bernilai wajib, itu hal biasa. Namun jika ditambah dengan yang sunnah menjadi luar biasa.
"Salat lima waktu menjadi istimewa kalau dilengkapi dengan yang sunnah, diantaranya ada tahajud, duha dan sebagainya," tambah Anas.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad kali ini diharapkan menjadi momentum bagi seluruh civitas SMA Islam, untuk menjadi pribadi yang saling menghormati, menghargai dan menyayangi sesama.
"Golongan umat Nabi Muhammad juga memiliki ciri suka berdzikir dan saling menyayangi," tukasnya. (imm/sir/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :