Nilai Bahasa Indonesia Rendah Karena Guru Malas Baca

 
MALANG - Nilai 100 untuk mata pelajaran (mapel) Bahasa Indonesia sangat sulit didapatkan. Berbeda dengan mapel Matematika yang pada gelaran Ujian Nasional (UN) sering bertaburan angka absolut. Fenomena ini menurut Dr. Roekhan, M.Pd, dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM) dikarenakan belum seragamnya penafsiran atau pemahaman guru terhadap materi yang disampaikan kepada siswa.
“Bahasa Indonesia bukan pelajaran yang sulit, hanya saja mengapa siswa tidak bisa mendapatkan nilai atau angka 100 itu karena biasanya guru tidak memiliki tafsiran atau pemahaman yang sama,” ungkapnya kepada Malang Post.
Ia menjelaskan, kemampuan menafsir pada guru masih rendah. Untuk menafsir perlu pengetahuan, dan perlu pengalaman. Karena pengetahuan dan pengalaman antar guru satu dengan yang lain berbeda, maka kemampuan interpretasi atau kemampuan menafsir tidaklah sama. 
“Inilah yang membuat mengapa siswa menghadapi guru-guru dengan penafsiran yang beragam,” ujarnya.
Dosen yang sekaligus  menjabat Wakil Dekan II itu mengatakan, sebenarnya tidak semata-mata  siswanya yang kurang paham mata pelajaran Bahasa Indonesia, tetapi guru juga harus berbenah.
Untuk berbenah ditingkat guru ada dua hal, pertama yakni Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) yang dibawah naungan Dinas Pendidikan  yang tugasnya melatih para guru. Lembaga ini mempunyai tanggungjawab untuk memberikan bekal yang cukup kepada guru agar memiliki pemahaman dan pengalaman yang memadai dalam Bahasa Indonesia. 
Selain LPMP, yang harus berbenah kedua yakni guru. Guru jangan selalu bergantung terhadap buku teks.
“Buku teks biasanya dianggap sudah cukup bagi mereka sebagai pegangan untuk mengajar. Mereka lupa bahwa buku teks hanya sebagian dari materi saja. Untuk materi tambahan lainnya ya harus membaca, mengupgrade pengetahuan dan pengalaman dalam bidang bahasa meliputi berbicara, membaca, menulis pengetahuan bahasa,” pungkasnya.
Ia juga menambahkan, dengan adanya pembinaan tersebut maka bisa menjadi modal bagi siswa untuk mendapatkan nilai maksimal Bahasa Indonesia. Dengan demikian maka perbedaan-perbedaan tafsir tiap guru bisa dikurangi.
“Kalau perbedaan sedikit sih tidak apa-apa, tapi jangan sampai pisah. Seperti dalam agama, jangan sampai merubah akidah,” ujarnya. (mg4/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :