Kak Seto: Sekolah Formal Buat Anak Jadi Penentang

 
MALANG – Di era globalisasi, pendidikan sekolah formal ternyata tidak menjadi jaminan bisa membentuk karakter dan kepribadian seorang anak menjadi baik. Sekolah formal justru membuat anak tumbuh menjadi pribadi penentang. 
Hal itu disampaikan oleh Dr. Seto Mulyadi, S.Ps M.Si atau yang akrab disapa Kak Seto dalam seminar nasional Harmonisasi Keluarga, Sekolah dan Masyarakat dalam Penguatan Insan dan Ekosistem Pendidikan, di UM kemarin.
Kak Seto mengatakan, mendidik seorang anak memerlukan sinergi antara tiga elemen. Belajar di pendidikan formal, menurut dia hanya bisa mengekang anak. Sedangkan pendidikan keluarga sangat penting menurutnya sebagai pendidikan non formal. Dan untuk pendidikan informal,bisa melalui sosialisasi di masyarakat.
“Kalau  sekolah formal, anak-anak dituntut seperti robot. Mereka hanya di jejelin dengan pembiasaan membawa buku, dan menghafal. Kalau telat sedikit diomeli. Kalau tidak membuat PR dihukum dan harus mengerjakan PR, mereka akan merasa di penjara,” ujar doctor bidang psikologis ini.
Kak Seto mengatakan, untuk mengimbangi adanya rasa terkekang anak terhadap sekolah formal yang selama ini terjadi, diperlukan pendidikan keluarga. Pendidikan keluarga sangat penting dalam membentuk karakter serta kepribadian seseorang.
Kak Seto melanjutkan, dampak dari adanya sekolah formal yang sangat penuh aturan adalah anak bisa saja malas sekolah, malas belajar, merokok, seks bebas, hingga bunuh diri. Karena itu, kurikulum harus lebih ramah pada anak, kurikulum pendidikan berpihak pada hak anak yakni belajar. 
Apalagi, lanjut dia, untuk sekolah formal yang diterapkan, belum sepenuhnya menerapkan pembelajaran etika. Mereka hanya diberikan soal-soal dan diwajibkan patuh dengan aturan. 
“Etika masih kurang diajarkan, mereka hanya minta belajar saja terus,” terang Kak Seto.
Untuk itu, pria usia 65 tahun yang terkenal dengan lagu Si Komo ini pun mengimbau kepada seluruh orang tua, sekolah dan juga anak agar bisa memanfaatkan program fullday school yang telah ditetapkan oleh pemerintah sejak tahun ini.
“Fullday memang bagus tujuannya, dan saya yakin, 70 persen karakter siswa bisa terbentuk melalui fullday,” bebernya. (sin/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...