Pembangunan Belum Bersahabat dengan Lingkungan

MALANG – Masyarakat seharusnya bisa menerapkan konsep Green Construction jika hendak mendirikan sebuah bangunan. Hal ini harus dijadikan perhatian khusus bagi masyarakat mengingat begitu banyak limbah yang terbuang sehingga merusak lingkungan hidup dan berefek pada menipisnya lapisan ozon di bumi.
Tak hanya itu, bencana alam banjir dan longsor juga merupakan salah satu efek dari pembuangan limbah dari masyarakat. Terutama limbah dari pembangunan sebuah gedung dan proses pembangunan yang tidak mengedepankan konsep green construction. 
Hal ini diungkapkan oleh Engineer &GP Greenship Profesional, Education & Training PT.PP Konstruksi Grand Sungkono Lagoon Surabaya Prayani Siregar yang merupakan salah satu pemateri pada Seminar Nasional yang digelar di gedung Aula Pertamina Universitas Politeknik Negeri Malang, Minggu, (3/12).
Seminar yang bertema Konstruksi Berkelanjutan dan Sistem Manajemen Lingkungan tersebut mengajak masyarakat luas untuk memahami konsep green construction. Sehingga dari seminar tersebut diharapkan proses pembangunan di setiap daerah bisa mengaplikasikan konsep tersebut dan mengarahkan ke pembangunan yang lebih bersahabat dengan lingkungan.
“Jadi proses pembangunannya harus mengurangi material yang merusak lingkungan. Tak hanya itu, limbah juga harus tidak melebihi batas toleransi,” ungkap Prayani Siregar.
Ia juga menjelaskan, proses pembangunan yang tidak mencemari lingkungan dengan bahan kimia dan pemanfaatan sisa material juga harus diperhatikan secara serius.
Hal ini dibenarkan oleh Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Sistem serta Teknik Lalu Lintas Drs. Muhammad Idris, MT yang juga merupakan salah satu pemateri di seminar tersebut. “Intinya berada di metode keseimbangan pembangunan dan keadaan alam sekitar. Bagaimana kita bisa menerapkan metode tersebut se-efektif mungkin,” ungkap Idris spaan akrabnya.
Lebih lanjut Idris mengungkapkan green construction merupakan konsep yang membutuhkan perhitungan terperinci. Hal ini meliputi penggunaan energi seminimal mungkin, pemanfaatan ruang alam, menggunakan energi yang bisa diperbaharui, menggunakan material yang bersifat 3R (reuse, reduce, dan recycle).
“Contohnya pemasangan biopori (sumur resapan) yang seharusnya di budidayakan pada bangunan di sekitar. Karena biopori memiliki berbagai macam manfaat,” imbuh Idris. 
Ia mengungkapkan selain untuk mencegah banjir, biopori juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan sampah organic yang nantinya akan berefek pada penyuburan tanaman sekitar. “Selain itu biopori juga mampu menambah kualitas air tanah dengan memanfaatkan organism dalam tanah yang mampu membuat sampah organic menjadi mineral yang nantinya akan bercampur dengan air dalam tanah sehingga air mineral tersebut bisa dimanfaatkan kembali oleh kita,” pungkasnya. (mg1/oci)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...