Naskah Kuno Nusantara Makin Terabaikan


MALANG - Naskah kuno Nusantara yang semakin terabaikan menjadi perhatian khusus bagi Komunitas Lontar Sansekerta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) Malang.
Naskah kuno saat ini hanya disimpan oleh para kolektor, namun tidak banyak yang diedukasikan pada masyarakat. Melalui Komunitas Lontar Sansekerta FISIP UB, naskah-naskah kuno ini mempunyai arti.
Komunitas yang berdiri sejak 2015 itu rutin terjun ke masyarakat untuk menemukan berbagai naskah kuno klasik yang kondisinya mengenaskan. Banyak naskah yang sudah disimpan dalam komunitas ini. Mulai dari naskah proklamasi, hingga naskah-naskah sejarah lainnya. Mereka mendapatkan naskah ini dari hasil penelusuran.
"Naskah kuno yang bernilai identitas bangsa itu tidak diperhatikan. Di satu sisi hanya dianggap klenik atau mitos, dan di sisi lain diperjualbelikan untuk keuntungan beberapa pihak," lanjut Verdy Firmantoro, pendiri komunitas ini.
Verdy mengatakan, naskah kuno Indonesia memiliki dan menyimpan banyak pesan dan merupakan nilai identitas bangsa Indonesia. "Bangsa Indonesia saat ini mengalami keterasingan dalam nilai-nilai identitasnya. Bangsa Indonesia memang mengalami kemajuan, namun nilai identitasnya mengalami keterasingan," ujar mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi itu.
Ia juga sempat membuktikan ketidakpedulian masyarakat pada naskah kuno dengan membuka donasi dana kepedulian untuk naskah kuno secara online. Nyatanya hingga 2 bulan, tidak sepeser uang yang terkumpul.
Ia menyontohkan, salah satunya dalam Falsafah Sultan Agung Mangkunegara IV yang tertulis di serat wulangreh, wedhatama, dan centini memiliki pesan Heneng, Hening, Heling, Hawas yang bisa dimaknai anti korupsi.
Manajer bidang kebudayaan dan spiritual Pusat Studi Peradaban UB itu menjelaskan satu-persatu tentang makna di balik kata-kata tersebut. "Heneng artinya sikap tenang, Hening berarti jujur, Heling berarti sadar diri, dan Hawas artinya waspada. Poinnya kita harus menjalankan mandat itu dengan tenang, jujur, sadar diri, dan terus waspada," jelasnya.
Komunitas Sansekerta tidak hanya mengumpulkan naskah yang sudah ada, namun membuat karya riset digitalisasi naskah kuno dan mendapatkan juara 1 pada event di UI. Digitalisasi naskah kuno sudah mulai diimplementasikan menjadi proyek yang telah berjalan 40 persen.
"Jadi masyarakat yang memiliki atau mewarisi naskah kuno bisa mendokumentasikannya secara digital dalam aplikasi yang kami bangun. Sehingga tidak hanya sebatas menjadi koleksi, naskah itu juga bisa menjadi konsumsi publik yang bermanfaat dengan nilai-nilai dan pesan yang terkandung," paparnya.
Verdy juga sedang melakukan riset untuk membuat teori komunikasi politik dari Babad Diponegoro. "Figur Diponegoro dijadikan simbol manusia politik karena memiliki nilai:nilai keluhuran adi luhung dan tidak berorientasi pada kekuasaan," katanya.
Selain riset dan proses digitalisasi naskah kuno, komunitas Lontar Sansekerta aktif mengadakan diskusi dan kajian yang hasilnya menjadi landasan riset atau tulisan-tulisan ke media. "Karena anggotanya berasal dari berbagai disiplin ilmu, biasanya anggota itu juga membuat gerakan sesuai disiplin ilmu mereka yang berdasarkan naskah kuno yang dibahas," pungkasnya. (sin/udi)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...