IBU Gali Potensi Indonesia Timur

 
MALANG - Ingin mahasiswa pendatangnya selalu menghargai kearifan lokal, IKIP Budi Utomo (IBU) menggelar simposium nasional Melacak Kembali Kearifan Lokal Pendidikan di Indonesia Timur. Acara tersebut dihadiri oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs Frans Lebu Raya.
Frans berpesan kepada mahasiswa IBU yang hadir, untuk mempersiapkan diri menjadi guru atau pendidik yang berkarakter dan tetap menghargai kearifan lokal, ketika nanti kembali ke kampung halaman.
Ia tidak ingin NTT terus dianggap sebagai daerah tertinggal. Ia yakin, mahasiswa sarjana lulusan IBU bisa menjadi seorang guru yang berbudi pekerti serta pendidik yang tetap menghargai kearifan lokal.
"Walaupun lambat laun NTT menjadi daerah yang sudah tidak lagi tertinggal tapi harus tetap memperhatikan kearifan lokalnya. Nah tujuan yang ingin saya capai ini adalah tugas kalian," terang Frans.
Frans juga berpesan kepada mahasiswa, walaupun mereka sedang berada di tanah rantau, harus tetap ingat dengan budaya lokal. Jangan berlagak ke kota-kotaan, dan melupakan kearifan lokalnya. Menurutnya, itu adalah salah satu upaya untuk tetap menjaga kearifan lokal.
Sementara itu, Rektor IBU Dr. Nurcholis Sunuyeko sangat mendukung penuh adanya pelestarian kearifan lokal di lingkungan kampus yang ia pimpin itu. Nucholis mengungkapkan, ada beragam upaya kampus yang dilakukan untuk mendukung itu.
"Kami memiliki Pusat Kajian Indonesia Timur Pendidikan dan Budaya (Puskitdaya) sejak 2016 dan memang fokus untuk mengembangkan sumber daya manusia di Indonesia Timur. Kegiatan ini adalah salah satu bentuk aktivitasnya,” ujarnya.
Para peneliti Puskitdaya diarahkan untuk mencari data sebanyak-banyaknya dan belajar mengenai Indonesia Timur agar yang didengungkan untuk memperjuangkan masyarakat itu jelas berdasarkan data faktual.
“Sebagai masyarakat Indonesia, perhatian kita harus adil memperhatikan semua sisi. Memperhatikan bagian timur juga, terutama aspek pendidikan dan kebudayaannya, bukan hal lain misalnya politik,” terang dia.
Puskitdaya, lanjutnya, lahir karena kerisauan akademisi IBU tentang Indonesia yang begitu besar namun belum merata pembangunan manusianya.
“Itu berarti juga berkenaan dengan pendidikan di sana. Apa yang harus dibenahi,” papar dia.
Ia mengatakan, keunggulan komparatif yang bisa menjadi landasan kemajuan pendidikan Indonesia timur adalah karakter kebangsaan.
“Jadi bagaimana pendidikan karakter dibangun dari kearifan lokal. Hasilnya pasti akan baik karena sebagai bangsa, identitas dan karakter itu bukan dari mana-mana tapi dari bangsa atau wilayahnya sendiri,” tuturnya.
Menurutnya, masyarakat Indonesia juga harus berasas ideologi kepedulian yang adil dan berpihak pada kemanfaatan. Acara tersebut diikuti oleh 250 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan akademisi dari Indonesia timur dan berbagai kalangan. (sin/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...