Kelola Rumah Kompos, Hidupi Perkebunan Sayur dan Toga di Sekolah


MALANG - UNTUK merawat aneka tanaman dan sayuran yang tumbuh subur di sekolah, SDN Tunjungsekar V tak perlu bingung mencari pupuk. Sebab, ada rumah kompos yang rutin berproduksi di sekolah tersebut. Vakum sejak 2010, kini aktivitas rumah kompos semarak lagi.
Rumah kompos tersebut berada di sebuah gudang kecil yang ada di SDN Tunjungsekar V. Sejak kehadiran Agus Sriwulan, kepala sekolah kala itu di sana, rumah kompos kembali aktif berproduksi. Puluhan botol berisi pupuk cair berderet di sana. Pupuk itulah yang dipakai untuk merawat tanaman toga dan sayuran yang tumbuh subur di sekolah. Aktivitas Rumah Kompos di SDN Tunjungsekar V pada tahun 2010, sempat terhenti dan tidak terawat selama beberapa tahun kini diberdayakan kembali. Padahal rumah kompos ini keberadaanya sudah lama, hanya saja karena lokasinya di belakang sekolah dan kurang pengembangan.
Agus Sriwulan, yang ditemui Malang Post sebelum dimutasi ke SDN Pandanwangi 1, mengajak siswa memiliki inisiatif untuk menghidupkan kembali rumah kompos ini. Apalagi, ada banyak bahan-bahan yang sudah lama tidak digunakan.
Sejak rumah kompos diaktifkan kembali, siswa diwajibkan merawat tanaman dari hasil pupuk kompos yang diolah oleh siswa dari sampah yang terkumpul. Setidaknya ada lebih dari 5 jenis tanaman yang ditanam di halaman Rumah Kompos itu. Seluruh siswa mendapatkan pembelajaran di rumah kompos. Tugas siswa ialah mengumpulkan sampah di sekitar sekolah, lalu dibawa ke Rumah Kompos ini. Sampah-sampah yang bisa didaur ulang, diolah untuk dimanfaatkan.
Sri, sapaan akrab Agus Sriwulan mengatakan, rumah kompos ini hanya gudang kecil. Setelah dirombak seluruh siswa bisa memanfaatkan rumah kompos ini. Rumah kompos ini digunakan sebagai sumber kehidupan bagi tanaman yang juga ia tanam di sekolah sejak ia menjabat kepala sekolah di sekolah ini.
Lahan yang cukup luas dan gersang dibelakang sekolah pun, ia sulap menjadi perkebunan sayur dan toga. Sejak saat itu, Tanaman yang dimiliki oleh sekolah ini pun cukup banyak, oleh sebab itu iamemerintahkan siswanya untuk selalu rajin mengolah sampah, menjadi pupuk untuk menyiram tanaman.
Ia mengatakan, dihidupkannya kembali Rumah Kompos ini juga berkaitan dengan Adiwiyata yang diperolah sekolah pada tahun 2012. Ia tak ingin setelah mendapatkan penghargaan itu merasa puas lantas melupakan hal yang berkaitan dengan lingkungan, salah satunya ialah Rumah Kompos.
“Setelah penghargaan itu, belum ada implementasi nyata di sekolah. Kami memang dikenal dengan pengolahan di bidang lingkungan. Banyak kunjungan juga. Kami ingin semakin berkembang rumah kompos ini sebagai media pembelajaran,” katanya.
Kebiasaan yang ia terapkan ini menjadi budaya hingga saat ini. Setiap hari, siswanya diminta untuk merawat tanaman yang berada dibelakang sekolah dengan kompos yang dibuat oleh siswa.
Tak hanya itu saja, dari hasil yang sudah diperoleh seperti pupuk, lalu barang daur ulang lainnya, Rumah Kompos ini akan berfungsi sebagai rumah produksi. Sehingga bisa memberikan manfaat dari segi materiil.  Siswa juga dibebaskan untuk menjual produk tanaman hasil penanaman mereka ke orang tua atau kemanapun, sesuai target mereka.
“Bisa menjual kemanapun itulah yang saya katakan bisa menjadi sumber materiil bagi siswa dan kami,” pungkasnya. (sinta/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :