Lulus Perguruan Tinggi Harus Belajar di Dunia Nyata

 
MALANG – Lulusan perguruan tinggi masih harus mengasah kemampuan dan pengetahuannya lagi untuk dapat lebih siap menghadapi dunia kerja. Ilmu yang didapatkan di bangku kuliah masih belum memenuhi tuntutan dunia kerja, tapi masih bekal dasar untuk masuk dalam dunia kerja. 
Menurut Ketua Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur yang menaungi STIKOSA-AWS Imawan Mashuri, SH., MH.kondisi itu hampir terjadi di berbagai dunia perguruan tinggi. Hampir semua perguruan tinggi fokus dibidangnya masing-masing, sesungguhnya belum benar-benar bisa langsung tune-in di masyarakat. Semua masih harus terus belajar lagi, belajar di dunia nyata, dunia praktis. 
“Bekal wisudawan yang dimiliki saat ini adalah  baru bekal dasar. Tapi Insya Allah dengan bekal itu  akan bisa berkembang memasuki zaman now ini,” kata Imawan Mashuri dalam acara wisudawan Stikosa AWS yang dikukuhkan di Dyandra Convention Center, Sabtu (9/12).
Dia menegaskan pentingnya para wisudawan menyikap perkembangan saat ini. “Sesungguhnya zaman sekarang ini memang era disruption,” ujarnya.
Imawan mengatakan era disruption merupakan sebuah era terganggunya para incumbent. “Incumbent di sini adalah sesuatu yang established, yang keberadaannya diganggu sesuatu yaitu teknologi yang merupakan perkembangan milenial atau dengan kata lain teknologi telah mengantar pola manajemen baru yang disebut disruption,” jelasnya. 
Begitu pula dengan perkembangan dalam dunia media saat ini. Perkembangan teknologi saat ini telah melahirkan media sosial yang kontennya sendiri jauh doktrin dasar jurnalisme. Kondisi seperti zaman sekarang tidak bisa dihindari tapi harus dihadapi.
“Jangan dihindari tapi kita harus masuk ke dalamnya,” papar Imawan. 
Berkait dengan hal itu, ia pun berpesan kepada wisudawan.
“Yang sudah konsentrasi pada bidang ilmu jurnalistik, bisa ikut berjuang untuk bisa ikut menjadikan jurnalistik zaman now yang menyodorkan kebenaran berdasar doktrin dasar yang diperoleh secara akademik di kampus,” ujarnya. “Tidak ikut menyesatkan lalu lintas informasi media sosial,” imbuhnya.
Sedangkan yang sudah belajar pada konsentrasi bidang ilmu broadcasting, bisa ikut mewarnai akal sehat dunia tayang dengan terus mengikuti dan menyesuaikan perkembangan teknologi, dan yang konsentrasi pada bidang public relation  bisa mengantar pencerahan baru dan presisi untuk suatu relasi.
Dalam wisudawan Stikosa AWSitu,  Ilham Bahrsyah, wisudawan bidang peminatan public relation, meraih IPK tertinggi yakni 3,77. Sedangkan IPK tertinggi untuk peminatan jurnalistik diperoleh Fahmi Aziz dengan IPK 3,58 dan Ari Noer Rachmawati, peminatan broadcasting, dengan IPK 3,65. (aim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...