Tekan HIV di Papua, Kampanyekan Program Sirkumsisi


MALANG – Sirkumsisi (khitan) dengan menggunakan dapat mengurangi risiko terjangkitnya virus HIV. Hal ini dikaitkan dengan wilayah yang mayoritas telah mengenal dan menjalani sirkumsisi dinilai lebih sehat dan kecilnya risiko terkena HIV daripada wilayah yang mayoritas tidak melakukan sirkumsisi.
Hal ini dijelaskan oleh Sekretaris Komisi Penanggulangan HIV/AIDS KPA Provinsi Papua, Drh Constant Karma saat menjadi pemateri dalam seminar Sosialisasi Program Sirkumsisi Pria Sukarela di Papua yang digelar di GOR Universitas Tribhana Tunggadewi (Unitri) Malang.
“Karena bakteri yang terkandung di air seni dan sperma tidak akan bisa dibersihkan secara sempurna jika masih belum sirkumsisi. Akan berbeda jika sudah sirkumsisi karena kulit yang kotor sudah dibuang,” papar Constant sapaan akrabnya.
Ia menjelaskan bakteri yang tidak bisa dibersihkan secara sempurna maka akan menjadi virus HIV. Terhitung virus HIV akan berkumpul pada satu titik terlebih dahulu selama enam bulan. Jika terus dibiarkan, maka akan menyebar dan terjadilah penyakit AIDS. Maka dari itu sirkumsisi bisa dikatakan sebagai pelindung diri dari virus HIV dengan persentase 80 persen jika dibandingkan dengan pria yang tidak menjalani proses sirkumsisi.
“Jika sudah sirkumsisi, bukan tidak mungkin terjangkit HIV. Namun setidaknya data tersebut dapat dijadikan acuan seberapa pentingnya proses sirkumsisi,” imbuhnya.
Constant mengaku, ia sudah sembilan tahun berjuang untuk menyerukan program sirkumsisi di wilayah Indonesia Timur. Ia juga sangat mengharapkan program sirkumsisi bisa merata dan dianggap sebagai suatu kewajiban bagi masyarakat dalam menjaga kesehatan. Tercatat saat ini  baru 50 persen pria Papua yang melakukan sirkumsisi. Sementara di Afrika, angkanya sudah lebih tinggi, yakni 70 persen.
Constant juga mengungkapkan, ia pernah menuai protes dari masyarakat Papua bahwa penyebaran virus HIV adalah sex bebas. Sehingga ia dituntut untuk menutup rumah bordil di kawasan Papua. “Fakta dari data yang masuk, yang lebih banyak terkena HIV adalah ibu rumah tangga,” tegasnya.
Hal ini dikarenakan suami yang menularkan virus tersebut setelah melakukan sex bebas dan kemudian ditularkan ke istrinya. “Karena si suami tidak  melakukan proses sirkumsisi. Maka terjadilah hal tersebut, maka dari itu pentingnya sirkumsisi kita ungkapkan pada mahasiswa dan generasi penerus bangsa terlebih dahulu untuk memutus budaya yang tidak sehat,” tandasnya. (mg1/nda)

Berita Terkait

Berita Lainnya :