Lewat Aplikasi, Wakaf Jadi Lebih Mudah


MALANG – Meningkatnya perkembangan teknologi di Indonesia membuat sistem ekonomi banyak yang beralih dari konvensional menuju digitalisasi. Selain jual beli dan angkutan yang banyak beralih ke sistem online, kini wakaf pun dapat dilakukan melalui aplikasi.
Pengenalan dan penggunaan Wakaf Tunai ini dilakukan dalam kuliah tamu yang digelar di gedung Student Center Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang, Sabtu (9/12).
Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim, Prof Dr Abdul Haris M.Ag menjadi pembuka aplikasi Wakaf Tunai pertama dalam acara tersebut. “Aplikasi Wakaf Tunai ini bekerjasama dengan Bank BTN Syariah Kota Malang. Dan semoga dengan aplikasi ini banyak yang mulai mewakafkan sebagian rezekinya untuk peduli terhadap sesama karena lebih mudah dilakukan dan langsung tepat sasaran,” ungkap Prof Haris.
Selain itu, Prof Haris menjadi pewakaf pertama dalam aplikasi tersebut sejumlah Rp 2,5 juta untuk pembangunan rumah sakit di UIN Malang. “Tidak harus langsung dengan nominal yang besar. Namun dengan nominal Rp 10 ribu pun bisa diterima asalkan berdasarkan dari hati dan keihklasannya,” lanjutnya.
Digitalisasi di berbagai sektor memang tidak bisa dihindarkan. Bahkan masyarakat pun berlomba-lomba untuk menjadi bagian dari digitalisasi. Hal ini terbukti dengan banyaknya pedagang aktif yang tergabung dalam sistem aplikasi bukalapak.com, yakni 800 ribu jiwa. Padahal dalam transaksi konvensional baik di mall maupun pasar tradisional belum pernah ditemukan jumlah pedagang sebanyak itu.
Tak hanya itu, sistem angkutan kota juga bergeser dari konvensional menuju digital. Angka pendapatan angkutan berbasis online tercatat sebanyak Rp 39 triliun pertahun pada tahun 2016, tentu hal ini terlampau jauh jika dibandingkan dengan angkutan konvensional. Hal ini diungkapkan oleh Anggota Komisi XI DPR RI Ir H Muchammad Romahurmuziy MT, sebagai pemateri Kuliah Tamu dan launching Wakaf Tunai yang digelar di gedung Student Center UIN Maliki Malang.
Berdasarkan data tersebut, pria yang akrab disapa Muziy tersebut mengajak para mahasiswa untuk ikut berpartisipasi dalam ekonomi era digitalisasi yang semakin berkembang. “Indonesia merupakan pengguna internet terbesar nomor lima di seluruh dunia. Jadi kenapa kita tidak mampu untuk meningkatkan sistem perekonomian Indonesia melalui ekonomi digital,” papar Muziy.
Jika melihat data yang dikumpulkan dari berbagai produk yang sering dijadikan transaksi melalui digitalisasi maka pakaian jadi (fashion) memiliki urutan tertinggi. Disusul dengan games, elektronik dan gadged, produk kecantikan, buku, perlengkapan olahraga, suplemen kesehatan, dan aksesoris kendaraan.
“Data itu merupakan data yang kami peroleh dengan menyisir beberapa jumlah tempat pengiriman paket yang mengatas namakan transaksi digital. Jadi seharusnya ekonomi Indonesia bisa meningkat melalui kecanggihan pada masa kini dan angka kemiskinan juga akan sangat menurun untuk efek jangka panjangnya,” imbuhnya. (mg1/nda)

Berita Terkait

Berita Lainnya :