Khidmat, Perayaan HUT dan Maulid SMK PGRI Singosari


MALANG - Lantunan salawat nabi terdengar di lapangan SMK PGRI Singosari yang beralamat di Jalan Morotanjek ini, Senin pagi, (11/12). Bacaan tersebut berkumandang mengiringi pembukaan acara HUT ke-30 SMK PGRI Singosari. Peringatan HUT dilaksanakan seraya memeriahkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 H.
Kordiator acara maulid Akhmad Farid Fauzi mengatakan, pihaknya selalu berupaya dalam setiap kegiatan yang digelar sekolah akan selalu diiringi dengan kegiatan-kegiatan religi. Hal ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan dalam diri siswa sehingga diharapkan akan berimbas pada karakter mereka.
“Termasuk dalam perayaan HUT yang ke-30 kali ini, sekalian kami rangkai dengan peringatan Maulid Nabi,” ujarnya.
Kegiatan Maulid Nabi Muhammad dimulai pada pukul 08.00 WIB dengan lantunan salawat nabi. Untuk pembacaan salawat ini, pihak guru mengundang grup salawat Majlis Maulid Wat Ta’lim Riyadlul Jannah Korwil Singosari. “Sebenarnya kami juga memiliki grup salawat oleh siswa, namun kali ini kami mencoba mendatangkan dari luar sekolah, agar anak-anak dapat mencontoh grup salawat yang sudah besar sehingga termotivasi untuk lebih baik lagi,” tambahnya.
Bacaan salawat nabi yang berakhir pada pukul 09.00 WIB ini berlangsung khidmat. Farid berharap dengan kegiatan maulid nabi kegiatan HUT SMK PGRI Singosari penuh berkah dan berlangsung lancar hingga akhir acara.
“Yang terpenting kami berharap syafaat dari Rasulullah,” imbuhnya.
Usai lantunan salawat nabi, acara dilanjutkan dengan tausiyah agama. Dalam hal ini yang bertindak sebagai mubaligh yaitu KH. Ahmad Kholili. Dalam ceramahnya, Kholili tidak banyak menjelaskan tentang riwayat keluarga dan sejarah kelahiran Nabi Muhammad. Namun lebih kepada sikap seorang muslim sebagai ummat Rasulullah. “Kalau sejarah nabi saya kira bisa dibaca sendiri di buku-buku,” ucapnya.  
Menurutnya, sikap ideal umat rasulullah adalah meneladani akhlak nabi dan mengikuti sunnahnya. Tidak berguna harta, jabatan maupun kecerdasan otak tanpa diimbangi dengan akhlak yang mulia. Bahkan kata Kholili, ditentukannya sebuah hukum berdasar pada akhlak. “Akhlak itu lebih tinggi dari hukum. Untuk apa dibuat sebuah aturan jika tidak ada keinginan untuk ditaati,” tukasnya.
Ia menuturkan, jika hidup seseorang ingin beruntung, maka kuncinya ketaatan pada Allah dan Rasulullah. Sebab kepintaran seseorang tidak menjamin keberuntungan dalam kehidupannya. “Maka akal itu harus diimani bukan iman yang diakali, karena itu akan merusak hukum. Itulah sebabnya akhlak itu tingkatnya lebih tinggi dari hukum,” tegasnya.
Dalam kegiatan yang bertema ‘jalani hidup mulia dengan meneladani sunnah rasulullah’ ini, Kholili berharap seluruh jamaah mendapat hadiah husnul khotimah dari Allah SWT. “Seperti yang dikatakan Sayyidina Ali, barang siapa yang menghormati Maulid Nabi maka ia akan husnul khotimah,” pungkasnya. (imm/sir/oci)

Berita Lainnya :