Jangan Jauhkan Anak dari Media Massa


MALANG - Pendidikan keluarga menjadi isu yang dipilih dalam agenda seminar nasional yang digelar Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur, di Regent Park. Dibuka oleh Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, seminar ini menghadirkan Pembicara Kunci
Kasubdit Pembinaan Pendidikan Keluarga Ditjen PAUD Dikmas Kemendikbud RI, Dra. Palupi Raraswati, M.AP. Seminar sehari ini juga memghadirkan para pakar pendidikan keluarga, yang ditinjau dari berbagai sudut pandang, antara lain media, agama, penguatan pendidikan karakter, dan hukum.
Ada bahasan menarik diungkapkan Rina Wahyu Setyaningrum, M.Ed, akademisi dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang, dengan tema Media dalam Pembentukan Karakter Keluarga. Menurut Rina, begitu ia biasa disapa, media bukan sesuatu yang berbahaya bagi anak pada generasi milenial. Don’t say No to Media.
Dalam seminar yang dihadiri oleh 200 orang ini, ia mengajak peserta untuk tidak menghindari media, karena dampak-dampaknya yang diyakini buruk, namun harus bisa bersahabat dengan media, dan menganggap media sebagai salah satu referensi yang bisa membentuk cita-cita anak. Media yang sangat relevan saat ini dalam pendidikan keluarga adalah Televisi.
“Media yang masih menjadi pilihan untuk perkembangan anak saat ini Televisi,” terang Rina.
Rina mengungkapkan, pertumbuhan anak-anak di rumah tidak lepas dari media. Psikologi anak, hingga pemikirannya bisa dibentuk melalui media. Itulah sebabnya jangan sampai menghindari media.
Rina mengungkapkan, orang tua zaman sekarang mungkin banyak yang takut, dengan keberadaan media saat di rumah. Namun, dengan tetap menemani dan mengizinkan anak untuk menonton tayangan TV, perkembangan anak justru bisa terbantu.
“Tayangan film animasi Adit dan Sopo Jarwo, yang oleh sebagian orang dianggap tidak layak, dapat dijadikan bahan diskusi antara anak dan orangtua saat menonton bersama. Sebagai orang tua, seharusnya kita bisa memberikan pemahaman dan penanaman nilai. Kita juga harus cerdas menjelaskannya,” kata dia.
Rina menguraikan, sifat-sifat generasi milenial dan generasi Z, yang kritis. Mereka mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap segala hal yang ditayangkan oleh media. Rina membeberkan, ketika orang tua mendampingi anak pun, mereka harus bisa memosisikan diri dengan baik. Menyiapkan jawaban dari pertanyaan anak yang mengkritisi sebuah tayangan.
“Di sinilah peran pendidikan keluarga yang sesungguhnya. Ketika anak di rumah, mereka harus tetap berhadapan dengan media, jangan sampai ketinggalan zaman. Biarkan mereka agar tetap melihat hal-hal baru dari media,” terang Rina.
Sementara Palupi Raraswati mengatakan, untuk mendukung pendidikan karakter akan sukses jika dimulai dari pendidikan orang tua.
“Cara paling mendasar ketika menerapkan pendidikan orang tua adalah dengan tidak membedakan gender atau perannya. Ayah pun juga wajib mengikuti parenting, yang kebanyakan dilakukan oleh para ibu,” kata Palupi.
Peserta yang menghadiri seminar ini berasal dari pimpinan dan anggota Aisyiyah se Jawa Timur dan Perwakilan sekolah PAUD-SMA, Komite sekolah dan aktivias perempuan se- Malang Raya. (sin/sir/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :