ITN Produksi Olahan Berbahan Spirulina


 
MALANG - Laboratorium Kimia Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang dipenuhi oleh berbagai produk olahan tanaman mikroalga jenis Spirulina. Ada sabun dengan berbagai aroma berbeda dijual dengan harga Rp 10 ribu, shampo isi 125 mililiter dijual dengan harga Rp 75 ribu, masker dengan harga Rp 90 ribu, kue kering dengan harga Rp 20 ribu, dan es krim dengan harga Rp 3.500.
Aneka bahan olahan spirulina ini ditata berjajar berdasarkan jenis. Ada empat deret sabun, dua deret shampoo, masker, dan kue kering. Produk-produk yang ditata itu adalah hasil karya tim dosen Teknik Kimia ITN yang terdiri dari, Prof Dr Tri Poespowati, Siswi Astuti, dan Faidliyah Nilna MT. Mereka berhasil membuat berbagai olahan spirulina yang telah diekstrak terlebih dahulu. 
Tri Poespowati mengatakan, ia yang sejak tahun 2010 tertarik untuk menghasilkan produk dari tanaman ini, pun sampai harus melakukan survey di beberapa daerah yang berpotensi menumbuhkan tanaman ini. 
“Saya sampai ke Jepara juga, di sana pengembangan tanaman ini sangat bagus, saya kirim juga mahasiswa ke sana,” ungkap perempuan yang akrab disapa Puspa itu.
Setelah ia berkomitmen untuk mulai memproduksi bahan olahan serbuk spirulina, ia pun membudidayakan tumbuhan ini di laboratorium kimia kampusnya. 
“Saya ajak mahasiswa juga untuk turut menjaga tanaman ini, setiap hari merawat tanaman ini,” terangnya.
Alasan dia konsisten dengan produksi spirulina ini, karena tanaman ini memiliki berbagai kandungan mineral diantaranya, protein 62,4 persen, karbohidrat 31 persen dan pospor 739 miligram per 100 gram.
Banyaknya protein inilah, yang mengawali timnya mencoba membuat berbagai olahan dari Spirulina, untuk visi jangka panjangnya nanti, bisa mengubah pola hidup masyarakat untuk mengonsumsi hasil olahan tanaman ini. Berbagai olahan Spirulina saat ini, juga sudah mulai dipasarkan ke masyarakat.
“Ketika saya sudah berhasil memasarkan hasil olahan tanaman ini ke masyarakat, bisa memproduksi banyak dan massal, minimal 100 lebih tiap bulannya. Saya ingin juga memberikan seminar atau edukasi agar mindset masyarakat berubah,” ungkapnya. 
Untuk saat ini, ia dan timnya masih memproduksi sesuai pesanan. (sin/oci)

Berita Lainnya :