Wadahi Karya Siswa, Pamerkan 288 Lukisan dan Kerajinan

 
MALANG - Jelang liburan akhir semester, SMPN 11 menggelar pentas seni siswa. Beragam bakat dan potensi ditampilkan di sekolah, kemarin. Ada seni lukis, kerajinan dan juga seni tari dan musik. Kegiatan ini menjadi wadah bagi siswa menunjukkan bakat dan prestasinya dalam bidang seni. Yang istimewa adalah terdapat 288 karya berbentuk lukisan dan kerajinan karya siswa yang dipamerkan dalam ajang tersebut.
Halaman SMPN 11, Kamis (14/12) dipenuhi 288 lukisan dan kerajinan kesenian hasil karya tangan siswa kelas IX. Lukisan dan berbagai karya seni yang dipajang didalam tenda bergubug tersebut dikemas dengan konsep pameran lukisan dan kerajinan. Hasil karya yang dihasilkan siswa beragam, diantaranya lukisan dan kerajinan anyaman yang dibentuk sesuai kreativitas mereka.
Limbah stik ice cream adalah salah satu bahan yang sering dipakai siswa dalam membuat prakarya. Salah satu siswa yang membuat hasil karya cukup menarik adalah Try Ema Fatifa dari kelas IX C, ia membuat miniatur rumah klasik dari kayu dan stik ice cream. Perpaduan dua bahan dasar yang mempunyai warna natural kayu itu sengaja dikombinasikan untuk memunculkan kesan menawan. Tidak perlu tambahan banyak cat untuk mewarnai rumah, warna cukup ditambahkan pada unsur tambahan misalnya  pagar. Untuk membuat rumah lebih hidup, juga ditambahkan pohon sebagai hiasan.
“Saya memang mengkreasi miniature bentuk rumah dengan kayu dan stik ice cream, sebab ingin membuat model rumah klasik menjadi lebih hidup,” ujarnya.
Menurutnya membuat perpaduan tidaklah mudah, yang paling susah adalah ketika harus menentukan komposisi, bentuk apa yang harus dibuat dari kayu, dan bentuk apa yang harus dibuat dari stik ice cream. Menurutnya, jika salah dalam membuat komposisi, bentuk tidak akan bisa sempurna. 
Guru kesenian, Ida Nurhayati mengatakan, ajang ini memang dilakukan setiap tahun. Ia mengupayakan setiap tahun siswa harus memiliki bekal kesenian untuk ditampilkan. 
“Untuk kelas IX, mereka diwajibkan membuat hasil kesenian yang berbentuk, misalnya lukisan, bukan penampilan performa di atas panggung,” kata Ida.
Ia memang mewajibkan pelajaran Seni dan Budaya ini menjadi sebuah pelajaran yang hidup dengan hasil karya nyata yang bisa dinikmati orang lain. Menurutnya, jika siswa hanya membuat karya seni kemudian dikumpulkan dan dinilai, semangat siswa untuk membuat hanya berhenti ketika mereka membuat saja. 
“Tapi kalau karya mereka bisa dinikmati orang lain, semangat mereka untuk membuat akan lebih tinggi. Mereka akan melakukan dengan total,” pungkasnya.Menurut Ida, walaupun praktek, namun tetap harus mempunyai nilai seni yang enak dinikmati. Selain pameran lukisan yang melibatkan kelas IX, siswa kelas VII dan VIII juga berkesempatan untuk menampilkan kemampuan seni yang dimiliki. Para siswa menampilkan seni tari, drama, dan berbagai penampilan lainnya. (sinta/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :