MTs Negeri 1 Malang Raih Prestasi Internasional


MALANG - Siswa MTs Negeri 1 Malang kembali menorehkan prestasi tingkat Internasional.  Kali ini, Lugas Firdinand Hamdi yang sukses membanggakan Indonesia dan Kota Malang, dalam ajang International Junior Science Olimpyad (IJSO) di Arnhem Belanda, pada 3-12 Desember lalu. 
Lugas berhasil meraih medali perak dari bidang Ilmu Pengetahuan Alam Terpadu, yaitu fisika, kimia dan biologi.
"Alhamdulillah, saya senang dan bangga bisa tampil di olimpiade internasional," kata Lugas Firdinand Hamdi kepada Malang Post.
Dalam sebuah kompetisi, tentu setiap peserta menginginkan hasil yang terbaik. Juara 1 atau medali emas menjadi dambaan, termasuk juga Lugas. Remaja asal Lumajang ini juga berharap hal yang sama. “Ya sebenarnya saya berharap mendapat medali emas, tapi yang bisa saya berikan adalah medali perak,” ungkapnya.
Meskipun demikian, Lugas merupakan salah satu generasi unggul yang dimiliki bangsa ini yang dicetak MTs Ngeri 1 Malang. Ia merasa bangga menjadi bagian dari yang dipercaya oleh Indonesia untuk tampil di IJSO. “Prestasi ini berkat doa orangtua, bimbingan para guru dan para dosen pembina, serta dukungan teman-teman,” katanya.
Tampil di ajang bergengsi seperti IJSO bukan perkara mudah.  Sebagai peraih Medali Emas OSN tahun ini,  Lugas harus bersaing dengan 30 siswa peraih medali OSN dari seluruh penjuru tanah air. Seleksi ini dilakukan dalam bentuk Training Centre (TC) yang dilakukan sebanyak tiga tahap. 
Tahap satu dan dua dilaksanakan di Bandung selama enam minggu oleh dosen Institut Teknologi Bandung (ITB). 30 peserta di tahap pertama ini diseleksi menjadi 12 peserta untuk ikut TC tahap kedua. Selanjutnya diseleksi kembali menjadi enam peserta yang dinyatakan lolos dan berhak mengikuti IJSO tahun ini.
Lugas Firdinand menjadi satu-satunya perwakilan Kota Malang yang melaju ke IJSO 2017 di Belanda. Lima peserta lainya berasal dari Bandung, Jakarta, Surabaya dan Medan. Enam peserta yang lolos di TC kedua ini melanjutkan TC tahap ketiga, untuk proses pemantapan materi di Kota Depok oleh dosen Universitas Indonesia (UI) selama enam minggu. “Selama TC kami dibina secara intensif dengan berlatih mengerjakan soal-soal olimpiade tingkat internasional. Bahkan saat libur usai TC kedua kami juga dibina mengerjakan soal secara online,” tutur Lugas.   
Dalam IJSO, Lugas mengakui soal-soal yang diberikan lebih sulit dari OSN. Rata-rata soal yang dikerjakan merupakan hasil dari penilitian baru yang dilakukan oleh akademisi di Belanda. Hari pertama soal pilihan ganda, hari kedua soal teori dan hari ketiga soal eksperimen dalam bentuk kelompok. “Kendala saya hanya soal waktu. Saya belum bisa mengerjakan soal lebih cepat, untuk itu saya harus belajar lagi dan lebih tekun berlatih untuk bisa menjadi lebih baik,” sambungnya.
Putra pasangan dari Abdul Hamid dan Tini Lestari ini mengungkapkan, kunci keberhasilannya selama ini
kerja keras dengan cara belajar dan berlatih yang tekun. Selain itu selalu berdoa dan tawakal kepada Allah.
Ungkapan syukur juga disampaikan, Luluk Hariroh, S.Pd M.Si Pembina Olimpiade MTs Negeri 1 Malang, atas suksesnya Lugas di ajang IJSO 2017. “Alhamdulillah rasa syukur yang tak terhingga, siswa MTsN 1 Kota Malang di akhir tahun 2017 ini mempersembahkan medali perak IJSO ke 14 dari Belanda. Semoga prestasi Lugas ini dapat memberikan semangat untuk adik kelasnya,”
Luluk menilai perjuangan Lugas dalam IJSO tahun ini luar biasa. kerja keras dan semangat  anak didiknya ini sebanding dengan apa yang diperoleh. “Semoga medali IJSO di tahun berikutnya bisa diperoleh lagi oleh siswa-siswi MTs Negeri 1 Kota Malang,” harapnya. (imm/adv/aim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :