Indonesia Harus Bersuara untuk Palestina


MALANG - Cendekiawan Muslim Singapura Prof. Dr. Dhulkifl Zaman Khan, berpesan agar masyarakat tidak menyangkut pautkan Islam dengan kekerasan yang terjadi, khususnya terkait kasus Israel dan Palestina. Muslim Indonesia hendaknya tahu tentang sejarah secara utuh terkait apa yang terjadi dibalik politik dunia arab, termasuk kedua negara tersebut.
“Jadi kita harus tahu backgroundnya, karena ini semuanya sudah campur aduk. Ini bukan soal agama saja, tapi ini soal ekonomi. Kita ini harus jadi intelek,” ungkapnya dalam agenda Refleksi Akhir Tahun bertema "Dinamika Politik di Dunia Arab dan Implikasinya bagi Islam Indonesia", Senin (18/12) di Aula Masjid AR Fachruddin UMM.
Menurut Dhulkifl, isu antara Israel dan Palestine sudah bergulir sejak 70 tahun lalu. Berbagai kepentingan merebak di sana. Melihat hal tersebut, sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim yang besar, Indonesia hendaknya ikut bersuara. Bukan hanya itu, Indonesia juga harus mulai memilah apa yang baik dan tidak baik bagi negaranya.
“Saya selalu bilang ke pejabat kita untuk jangan hanya duduk diam. Jangan salah, kita duduk diam bukan mereka yang mati tapi kita yang mati,”tandasnya.
Dhulkifl menguraikan, jika Indonesia hanya diam, kondisi peperangan yang terus berlanjut di negara arab lama-lama akan menjatuhkan nilai tukar rupiah. Jika hal ini terjadi, kegoncangan ekonomi juga akan terjadi di Indonesia.
“Tidak mungkin kalau Indonesia tidak ikut campur pada perdamaian di sana. We must to talk to Palestine,” tambahnya.
Kegiatan refleksi ini menghadirkan para pakar di antaranya cendekiawan Muslim Singapura Prof. Dr. Dhulkifl Zaman Khan, pakar politik Barat Tengah dan dunia Islam Dr. Ibnu Burdah MA, dan wartawan senior Jawa Pos Rohman Budijanto.
Kepala PSIF UMM Dr. Pradana Boy MA berharap dari acara ini dapat terbangun jejaring literasi damai yang melibatkan para intelektual publik, tokoh agama, penulis dan influencer, serta para aktivis muda Muslim yang bervisi perdamaian. (oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :