Kota Malang Pertahankan Lima Hari Sekolah


MALANG - Full Day School (FDS) yang dicanangkan Mendikbud Muhadjir Effendy membawa semangat pemantapan pendidikan karakter. Sekolah bisa merancang pembelajaran yang lebih maksimal dengan waktu sekolah yang lebih panjang. Di Kota Malang, sekolah antusias menyambut kebijakan ini meski lima hari sekolah bukan lagi jadi program wajib. Sekolah bisa memilih untuk menerapkan kebijakan enam atau lima hari waktu belajar dalam sepekan. Hal ini sesuai dengan Perpres nomor 87 mengenai penguatan pendidikan karakter.
Kepala SMPN 3 Kota Malang, Tutut Sri Wahyuni menyatakan sejauh ini masih belum ada keputusan soal lima hari sekolah.
"Kalau nanti dilarang ya kembali ke enam hari sekolah," kata dia.
Sejak diberlakukan pada awal tahun ajaran baru tahun ini, sekolah merasakan adanya perubahan. Terutama dalam hal karakter religius siswa. Sebab, dengan waktu pembelajaran yang lebih panjang, siswa memiliki kesempatan beribadah di sekolah.
“Karena waktu di sekolah lebih panjang, anak-anak punya kesempatan menjalankan salat berjamaah di musala sekolah,” ungkap Tutut.
Tutut mengungkapkan, program lain yang dilaksanakan seperti gotong royong dilakukan dengan kerja bakti, jumat bersih dan piket kelas, kegiatan literasi dilakukan setiap hari sebelum pelajaran dimulai. Untuk memupuk nasionalisme, selalu diputarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Tutut mengungkapkan rasa senangnya sebab sekolah yang ia pimpin bisa menjadi pilot project dan sukses melaksanakan PPK hingga akhir tahun. Ia beruntung, saat melakukan sosialisasi kepada wali murid mendapat tanggapan positif.
“Kadang masih masuk Sabtu hanya untuk eskul saja, Namun ada juga yang memang berlangsung lima hari. Sehingga Sabtu-Minggu libur. Sehingga Senin kembali sekolah dengan fresh,” kata dia.
Sementara itu, Kepala SMPN 5, Drs Burhanuddin, M.Pd mengungkapkan, PPK di masih akan terus dievaluasi. Sebab, untuk menuai hasil maksimal pada PPK, memerlukan proses.
Menurut Burhan, dampak yang ditimbulkan siswa, adalah kelelahan. Sebab, siswa harus pulang hingga sore hari.
“Sempat pula ada kekhawatiran, siswa tidak bisa fokus dalam belajar, sebab lelah yang mereka rasakan,” ujarnya
Namun, tidak sedikit juga dampak positif  yang dirasakan dari penerapan penguatan pendidikan karakter. Dampak positif tersebut diantaranya karakter religius sudah nampak. Hal ini terbukti, siswa-siswi sudah mulai terbiasa berdoa sebelum dan sesudah belajar serta sholat berjamaah.

Berita Lainnya :

loading...