Generasi Milenial Jangan Salah Pilih Jurusan


MALANG - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M Nasir mengingatkan pentingnya konsistensi pada bidang ilmu yang ditekuni. Jika lulusan tidak mempunyai kompetensi linear, akan sulit mempunyai keterampilan. Sebab keterampilan harus ditekuni.
Hal tersebut diungkapkan M Nasir dalam seminar Mempersiapkan Generasi Milenial untuk Meningkatkan Daya Saing Bangsa di Universitas Islam Malang (Unisma).
Mantan Rektor Universitas Diponegoro ini menuturkan, ada tiga syarat yang harus dimiliki lulusan generasi milenial. Yang pertama adalah tenaga kerja lulusan perguruan tinggi yang terampil dan berkualitas. Menurut Nasir, terampil dan berkualitas tidak bisa dimiliki semua orang. Tips menjadi lulusan yang terampil, adalah konsisten dalam menentukan tujuan, mulai dari pemilihan jurusan hingga pemilihan profesi pekerjaan.
“Tenaga kerja yang terampil dan berkualitas bisa diwujudkan oleh lulusan perguruan tinggi. Lulusan perguruan tinggi ternilai baik jika bisa diserap ke dunia kerja dan linear dengan bidang yang mereka pelajari,” jelasnya.
Nasir mengungkapkan, agar mahasiswa bisa menjadi tenaga kerja profesional yang linear antara ilmu dan profesi, perguruan tinggi harus melakukan uji kompetensi yang wajib dimiliki lulusan bidang ilmu sesuai standar kualifikasi kerja nasional Indonesia (SKKNI).
Nasir mengatakan, kompetensi itu selanjutnya dibreakdown dan diberikan pada semester 1-8. Selanjutnya dilengkapi dengan sertifikasi profesi oleh lembaga eksternal. Menurutnya, ketika seorang tenaga kerja mempunya standar sertifikasi, ilmu dan keterampilan yang didapatkan bisa menuntunnya ke arah profesi yang linear.
"Salah satu contohnya, seorang akuntan akan dipercaya jika mempunyai serifikat akuntan. Jika sudah dipercaya, ia akan mendapat gaji bisa sampai Rp 25 juta. Seorang insinyur, notaris, semua profesi membutuhkan sertifikasi," ungkap Nasir.
Selanjutnya, syarat untuk meningkatkan daya saing, adalah inovasi yang tidak hanya dipatenkan namun dikomersilkan dan bermanfaat bagi masyarakat. Menurut Nasir, banyak dosen atau mahasiswa yang selama ini membuat inovasi, namun masih hanya sebatas menemukan, dan publikasi saja. Baik inovasi yang dihasilkan melalui karya tulis, ataupun inovasi yang dihasilkan melalui program hibah.
“Kalau hanya dipatenkan lalu dibiarkan ya sama saja tidak bermanfaat dan tidak bisa disebut sebagai inovasi,” tuturnya.
Ia menambahkan, pada 2017 daya saing sumberdaya manusia Indonesia ada di peringkat 36 dari 144 negara. Meningkat dari tahun 2016 yang berada di posisi 41. Itu artinya, lulusannya sudah mulai bisa menunjukkan kualitas. Generasi milenial saat ini, perlu terus meningkatkan kemampuan untuk membantu Indonesia agar terus berdaya saing tiggi di Internasional. (sin/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...