Kampanye Lingkungan di Sekolah


Malang Post, Tugas seorang guru adalah mengajar dan membimbing murid-muridnya dalam meraih sebuah prestasi, baik akademik maupun non akademik. Tetapi hal berbada diterapkan oleh salah satu guru tidak tetap (GTT) asal SDN Bareng 3 Kota Malang Gesti Sulistianing.
Di luar jam pelajaran, penerapan dan sosialisasi tentang peduli lingkungan, khususnya fenomena kerusakan lingkungan sekitar yang dirasanya perlu mendapat perhatian lebih menjadi perhatiannya dan sekolah tempatnya mengajar. Dijelaskan guru yang mengajar klas IV ini, bahwa akhir-akhir ini sekolahnya sedang gencar-gencarnya dalam melakukan kampanye perbaikan lingkungan.
“Saya selalu berusaha untuk mengajak anak-anak peduli dengan lingkungan. Yang salah satu penerapannya dengan memanfaatkan sampah organik menjadi kompos dan sampah anorganik menjadi ketrampilan anak-anak,” ungkap Gesti kepada Malang Post.
Diungkap guru yang mengajar sejak tahun 1995 itu, cara yang ia terapkan adalah hal cukup sederhana. Di mana siswa hanya cukup memilah sampah antara organik dan anorganik di sela-sela waktunya. Untuk kemudian dipraktikan secara bersama saat membuat pupuk kompos dan kerajinan tangan dari limbah.
“Dari hal sederhana tersebut, kami berharap akan muncul rasa kepedulian terhadap lingkungan, rasa kebersamaan saat belajar dan bermain sehingga bisa tercipta proses belajar dan mengajar yang harmonis,” harapnya.
Gesti menambahkan, memang dengan era modern dan perkembangan teknologi yang sudah sangat maju sekarang ini, sepertinya kepedulian terhadap lingkungan semakin terkikis, terutama di kalangan generasi penerus bangsa. Namun hal itu bukanlah suatu penghalang.
“Dengan keadaan seperti saat ini, kita justru dituntut adaptif dan inovatif serta memanfaatkan waktu luang dengan baik untuk melakukan hal-hal positif di lingkungan sekitar sesuai dengan pekerjaan seseorang,” tutur perempuan kelahiran Madiun, 18 Agustus 1972 ini.
Baginya saat ini, ia terus berproses untuk mengarahkan siswa-siswi yang diajarnya bisa menjadi seorang yang memiliki kesadaran terhadap lingkungannya. Sehingga tidak menekankan pada akademik saja. “Perlu digaris bawahi, proses belajar mengajar tidak akan berlansung harmonis jika lingkungan sekitar, seperti ruangan kelas kotor. Maka mengajarkan kepada anak-anak untuk menjaga lingkungan juga menjadi yang utama” pungkasnya. (eri/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :