Romo Benny: Era Medsos Gerus Budaya Kritis


MALANG – “Pancasila rumah kita, rumah untuk kita semua, nilai dasar Indonesia, rumah kita selamanya”...
Lagu yang dipopulerkan Franky Sahilatua itu diungkapkan Penasehat Unit Kerja Presiden (UKP) Pembinaan Ideologi Pancasila (PIP) Romo Benny Susetyo sebagai salah satu pemateri dalam rembug budaya 'Merawat Kebhinekaan dan Menangkal Radikalisme dalam Bingkai Pancasila" di Studio UB TV, Rabu (3/12).
Dikatakan oleh Romo Benny, lagu berjudul Pancasila Rumah Kita adalah lagu sederhana tapi memiliki arti yang luar biasa dan merupakan representasi dari kehidupan bangsa Indonesia dengan Kebhinekaannya. Namun dengan keadaan perkembangan teknologi, masyarakat Indonesia mengalami pergeseran budaya sendiri. Sehingga ada banyak informasi yang tidak akurat dan membuat orang tidak berpikir logis dengan apa yang didapat dari kompleksnya informasi yang tersebar dalam media sosial.
“Saat ini, masyarakat kita lebih percaya kepada medsos sebagai dunia baru yang membuat hal itu sebagai budaya baru dan dominan. Secara tidak langsung, budaya kita adalah budaya yang mengikuti arus,” ujar Romo Benny.
Dijelaskan lebih lanjut, dengan permasalahan yang dialami masayarakat Indonesia tersebut, merupakan tantangan yang harus dihadapi dan dicari permasalahannya.
Ia mengungkapkan, jika akar permasalahan kebudayaan yang mulai bergeser itu karena mahasiswa telah kehilangan cara berpikir kritis.
“Cara berpikir kritis yang mulai hilang tersebut juga merupakan persoalan mendasar kita. Sehingga berakibat pada kehilangan kecerdasan seseorang dan hilangnya rasa kemanusiaan,” terangnya.
Dengan permasalahan yang diuraikan tersebut, arus besar atau budaya dominan yang sedang menyelimuti masyarakat bisa diatasi dengan menerapkan Pancasila sebagai perilaku hidup bernegara. Dengan begitu, berbagai permasalahan seperti radikalisme yang menciptakan sekat-sekat permasalah dapat ditangkal.
“Kita bisa memulai dari hal-hal kecil untuk menghilangkan sekat-sekat dan membumikan pancasila dengan prestasi. Salah satunya dengan membangun budaya dari ranah pendidikan atau perguruan tinggi yang berbasis kearifan lokal,” bebernya.
Dengan begitu, setiap langkah seseorang dalam berpikir, bertindak, bernalar dan bertingkah laku dengan bijak sehingga mampu membangun revolusi kebudayaan yang adaptif dengan perkembangan zaman.
Rektor UB, Prof Dr M Bisri dalam sambuatannya mengatakan, bahwa budaya merupakan sebuah aspek yang tidak dapat ditinggalkan dalam kehidupan masyarakat berbangsa bernegara dan juga penentu arah kebijakan Negara. Sehingga, budaya menjadi salah satu perhatian utama mahasiswa. Sehingga dengan adanya rembug budaya yang digelar untuk kedua kalinya itu, diaharapnya dapat tercapai sebuah solusi atas isu radikalisme yang muncul di Indonesia.
Dalam praktikya merawat keberagaman, UB juga memasukkannya di dalam kurikulum dan menyatukan mahasiswa melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
"Dengan 40 UKM  yang ada di UB, secara tidak langsung merepresentasikan UB sebuah negara kecil dengan keberagamannya. Cara merawat kebhinekaan itu dengan formula, yaitu perhatian agar tercipta harmonisasi," terangnya.
Dalam kegiatan ini, sejumlah budayawan tingkat nasional turut hadir sebagai pemateri, yaitu Budayawan Prie GS, Kepala UKP PIP Yudi Latief, Ketua Lesbumi KH Agus Sunyoto, dan Ketua Voice of Pancasila UB Ki Riyanto dengan dimoderatori oleh  Wahyu Widodo yang Aktif di PSLD dan PS2PM UB. (eri/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :