magista scarpe da calcio Atasi Gagal Panen, Dosen Unisma Manfaatkan Limbah Kubis


Atasi Gagal Panen, Dosen Unisma Manfaatkan Limbah Kubis

 
MALANG - Dosen Universitas Islam (Unisma) Malang meneliti limbah kubis sebagai pestisida dan pupuk organik. Penggunaan limbah ini bisa mengatasi gagal panen yang disebabkan penyakit tular tanah atau layu daun.Kepala Laboratorium Agro Teknologi Fakultas Pertanian Unisma Malang Dr. Ir. Anis Rosyidah MP menuturkan, selama dua tahun ini telah meneliti sebuah penyakit tular tanah atau yang disebut juga penyakit layu daun pada tanaman yang berasal dari bakteri di dalam tanah akibat dari pengolahan lahan yang tidak sempurna. Sehingga dari penyakit tersebut akan berdampak dan menghambat pertumbuhan tanaman dan mengurangi hasil panen 100 persen atau gagal panen.
“Dari permasalahan itu, saya mencoba mencari jalan keluarnya dengan mencari pestisida dan pupuk organik. Yang akhirnya melalui potensi limbah kubis-kubisan tersebut bisa digunakan untuk mengendalikan penyakit layu daun pada tanaman tomat,” ujar Anis kepad Malang Post.
Diungkapnya, limbah tanaman kubis-kubisan diantaranya adalah brokoli, kubis, dan sawi putih yang memiliki kandungan senyawa biofumigan dan memiliki kelebihan untuk mengendalikan patogen layu daun. Selain itu, apa yang telah ditemukan tersebut juga mudah didapat dan harganya sangat terjangkau.
Dalam prosesnya juga sangat sederhana dan bisa dicontoh oleh banyak orang. Cara kerjanya yakni limbah brokoli yang tersedia dirajang sepanjang 2 cm, setiap 5 kg media tanam dicampur dengan 400 gram limbah brokoli, dilakukan penyiraman agar pelepasan senyawa volatile, media tanam ditutup selama satu minggu agar senyawa volati menguap, setelah satu minggu dilakukan transplanting bibit tomat yang sudah mempunyai empat tangkai daun (lima hari pembibitan). 
Setelah itu, senyawa biofumigant akan mulai menguap dengan jangka waktu satu bulan yang cara kerjanya bisa mematikan patogen tular tanah yang menyerang tanaman tomat, kentang, terung dan cabai yang termasuk dalam famili solanaceae.
Diungkapnya, dari praktik yang telah dilakukannya di kawasan Bumiaji, terbukti bisa mengurangi penyakit layu daun sebesar 60 persen. Usai musim panen, limbah kubis yang berada di dalam tanah tersebut juga akan menjadi pupuk yang berfungsi menambah kesuburan tanah.
“Dengan begitu, secara tidak langsung, hasil penelitian ini tidak hanya berfungsi sebagai pestisida, namun juga pupuk sebelum masa tanam dimulai. Apa yang saya temukan ini merupakan salah satu cara yang lebih mudah dan hemat biaya,” tuturnya. 
Ia juga menambahkan, penelitian yang dilakukan merupakan hibah dana Dikti sebesar Rp 50 juta per tahun. (eri/adv/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :