SMAN 3 Juara L’Oreal Girls in Science 2017

SUDAH membuang sampah di tempat sampah, namun masih malas memilah berdasarkan jenisnya? Tenang saja, karena tiga siswa SMAN 3 Malang menciptakan suatu terobosan berupa tempat sampah pintar yang dapat memilah berdasarkan jenis sampah, organic, anorganik, metal maupun non metal. Hasil karya mereka meraih juara kedua dalam kompetisi L’Oreal Girls in Science 2017 yang diumumkan di Jakarta, beberapa waktu yang lalu. 
Ketiga remaja itu adalah Pavita Ardhani Sugiharto Putri, Feby Nadya Sabrina, dan Lintang Cahyaning Ratri. Lintang mengatakan, ide awal terciptanya smartbin ini dari masalah sehari-hari, mengenai masih banyaknya orang yang tidak mengindahkan pemilahan sampah saat membuangnya.
“Masih banyak orang yang malas memilah sampah berdasarkan jenisnya, padahal tempat sampah yang tersedia sudah cukup memadai untuk itu, warna dan bentuknya juga didesain dengan menarik,” kata Lintang. 
Tempat sampah karya mereka merupakan kotak transparan yang dilengkapi detector untuk memilah langsung sampah organic, anorganik (metal dan non metal) dan membuang secara otomatis ke tempat yang sesuai dengan ketentuan sampah. Sedangkan untuk sampah yang tidak dikenali oleh ketiga detector, maka akan masuk ke tong ‘lainnya’. Untuk sampah cair, dialirkan ke pipa khusus.
“Pada saat lomba kemarin, yang baru kami bawa yakni pemilahan sampah berdasarkan metal atau non metal menggunakan metal detector. Sekarang ini sedang kami kembangkan untuk memilah sampah organic dan non organic berdasarkan bau dan  kadar airnya,” ungkap Lintang.
Untuk deteksi bau, nantinya akan digunakan detector gas yang biasanya ada di sampah organic, misalnya H2S, Co2, atau Co. Sedangkan kadar air dilihat berdasarkan masa jenisnya. Yang menarik, ketika sampah tersebut telah penuh, maka akan ada alarm peringatan yang berbunyi, sehingga tidak ada sampah baru yang masuk, dan sampah yang telah penuh dapat dibuang ke pembuangan akhir segera. 
“Ini mungkin akan menjadi tantangan terbesar kami karena harus menggabungkan masing-masing detektornya, dan detector tersebut masih sulit dicari,” kata Pavita.
Butuh waktu beberapa bulan untuk mewujudkan ide tersebut, meski untuk pembuatan tempat sampahnya sendiri hanya memerlukan waktu dua minggu saja. Meski bukan dari jurusan elektronika, ketiganya mendapatkan bimbingan dari guru elektronika yang membantu mewujudkan ide pembuatan tempat sampah, meski dengan perbaikan dari segi konsep dan desain awal. 
Nantinya, mereka berharap smartbin ini dapat diproduksi masal dan menjadi tempat sampah yang ampun untuk menangani permasalah malasnya orang memilah sampah.
“Kami ingin apa yang kami ciptakan memiliki emplementasi bagi banyak orang. Bila sudah terwujud, tempat sampa ini bisa diletakkan di taman kota. Selain untuk tempat sampahnya sendiri, juga untuk mengedukasi anak-anak tentang pentingnya pemilahan sampah,” imbuh Pavita. (mg19/oci)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :