Unisma Kini Bisa Deteksi Skripsi Jiplakan


MALANG - Jelang kelulusan mahasiswa Februari mendatang, Unisma memberlakukan pengawasan ketat terhadap karya skripsi dan tugas akhir. Bahkan, para ketua prodi dari 10 fakultas telah dilatih agar bisa mendeteksi plagiarisme.
Unisma kemarin mengadakan Training of Trainer (TOT) dalam mendeteksi plagiasi yang digelar di Gedung Pusat Lt. 2, Rabu, (10/1).
Ketua Pelaksana Training, Ir.Istirochah Pujiwati, M.P menjelaskan bahwa TOT deteksi plagiasi ini merupakan langkah bagi lembaga untuk menjamin mutu mahasiswa dan dosen di seluruh tingkat agar memiliki kredibilitas dalam membuat karya tanpa plagiasi.
“Dengan program ini, kita ingin setiap karya yang dibuat akademisi Unisma bukanlah karya dari orang lain. Untuk mendeteksinya kita melakukan deteksi dini tersebut dengan program turnitin,” ujar Istirochah Pujiwati kepada Malang Post.
Ia menjelaskan lebih lanjut, dengan adanya program tersebut, peluang untuk plagiat bisa diminimalisir. Selain itu program tersebut akan langsung diaplikasikan menjelang yudisium bulan Februari ini.
Kepala Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK) Unisma ini menuturkan, jika pihaknya telah membeli 50 account yang nantinya dikelola oleh Kaprodi dengan harga 45 ribu dollar atau sekitar Rp 61 juta.
Sementara itu, dalam aturan karya yang tergolong dalam plagiasi, pada umumnya bagi akademisi baik dosen dan mahasiswa tingkat kesamaan karya maksimal 20 persen.
“Karena setiap karya juga tidak mungkin hasil karya sendiri, dengan sisanya adalah yang merupakan rujukan dari berbagai buku atau jurnal dan karya ilmiah yang ada,” terangnya.
Ia juga menegaskan, sebelumnya Unisma belum menggunakan program tersebut, sehingga tidak bisa diketahui adanya jumlah akademisi yang melakukan plagiasi pada setiap karyanya. Karena itu, Unisma sebagai perguruan tinggi NU papan atas perlu memperhatikan itu untuk mencetak mahasiswa dan lembaga yang memiliki kredibilitas.
Hal tersebut juga menjadi perhatian bagi Rektor Unisma, Prof. Dr. H. Maskuri M.Si. Upaya ini menurutnya adalah untuk menghentikan tindakan orang-orang yang tidak bertanggung jawab dalam membuat sebuah karya.
“Dengan menerapkan program ini, adalah salah satu upaya akuntabilitas lembaga untuk mendidik dan menghasilkan dosen dan mahasiswa yang berkualitas. Ini merupakan ikhtiar untuk menciptakan kreativitas bagi dosen dan mahasiswa untuk membuat karya-karya yang bebas dari plagiasi,” pungkasnya. (eri/oci)

Berita Lainnya :

loading...