UB Raup Rp 36,8 M Dari Aset


MALANG - Pada 2017, Universitas Brawijaya (UB) menargetkan pendapatan Rp 80 miliar dari aset yang dikelola. Sayangnya, target tersebut tak terpenuhi karena hanya menghasilkan Rp 36,8 miliar. Hal tersebut diungkapkan Rektor M Bisri dalam laporan dies natalis UB beberapa waktu lalu.
Beberapa aset yang sudah menghasilkan profit yakni Griya UB yang terdiri dari asrama dan rusunawa sebesar Rp 7,3 miliar. Disusul Guest House Rp 3,8 miliar.
Saat ini, UB tengah menyusun rencana strategis (Renstra) untuk mengembangkan unit badan usahanya yang terbagi menjadi dua yaitu Badan Usaha Akademik (BUA) dan Badan Usaha Non Akademik (BUNA). Kedua badan usaha tersebut merupakan aset yang dipersiapkan UB untuk menuju Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) yang telah dilakukan sejak tahun 2006.
Wakil Direktur Utama BUA, Tri Wahyu Nugroho S.P M.Si mengatakan, BUA yang dimiliki UB saat ini masih dalam tahap investasi dan tahap pembangunan. Sehingga tujuh dari sembilan unit yang dibawahi BUA masih belum melakukan transaksi dan belum bisa dikatakan meriah profit.
“Ada tiga fase yang harus dilalui dalam kebijakan pengembangannya, yaitu fase investasi dan inisiasi, fase swasembada atau pengembangan dan fase kontribusi untuk menentukan apakah unit usaha yang dimiliki meraih profit,” ujar Tri Wahyu kepada Malang Post.
Dari tiga tahapan tersebut, ia menerangkan untuk tahap pertama atau investasi pihaknya menargetkan selesai hingga tahun 2018 dengan mengawalinya di tahun 2016. Untuk tahap pengembangan usaha ditargetkannya pada tahun 2018 hingga 2022 yang terdiri dari kerja sama nasional dan perluasan usaha.
“Barulah pada tahap ketiga kami bisa berbicara profit yang akan terealisasi pada tahun 2022 hingga 2026. Karena sudah dipastikan ada kontribusi. Kalau berbicara target saat ini bukanlah angka, tetapi apa kontribusi yang telah diberikan,” terangnya.
Tri mengungkapkan hingga saat ini masih ada tujuh unit BUA yang masih dalam tahap investasi dan perencanaan yang diantaranya Agro Techno Park, Institut Atsiri, Institut Biosains, UB Forest dan Lab Lapang Terpadu. Dari ketujuh unit usaha tersebut belum menghasilkan profit, karena semua rata-rata baru berdiri satu dan dua tahun. Berbeda dengan dengan dua unit usaha yang telah menghasilkan profit yaitu Brawijaya Smart School (BSS) dan Brawijaya Language Centre yang sduah ada sejak lama.
Sementara itu berbeda dengan BUNA yang memiliki enam unit usaha, telah memiliki profit dan peningkatan pendapatan. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Tata Kelola dan Keuangan BUNA, Ubaidillah, SE., Ak., SAS., CA., CPAI. Disebutnya, pada tahun 2017 kemarin, lima dari enam unit usaha yang dikelola oleh BUNA mengalami peningkatan pendapatan. Diantaranya UB Kantin meraup pendapatan sebesar Rp 1,5 M, Griya UB (Asrama dan Rusunawa) Rp 7,3 M, UB Guest House Rp 3,8 M, UB Sport Center Rp 1,5 M dan UB Media (percetakan) sebesar Rp 800 juta.
“Untuk ERP atau pengolahan sampah, masih belum ada profit atau pendapatan. Itu karena baru ditangani BUNA secara mekanisme awal Januari 2018 ini. Memang sebelumnya pada pertengahan 2017 sudah dibawah BUNA, tetapi masih menggunakan mekanisme yang lama. Sehingga pendapatan yang diperoleh cukup untuk biaya operasional,” bebernya.
Ubaidillah juga menambahkan, secara umum jauh lebih baik disetiap tahunnya. Apalagi tata kelola menggunakan virtual accaount yang metode pembayaran lebih praktis, cepat, simple. Dengan begitu, dikatakannya, penataan menjadi yang utama dua tahun ini sebagai penguatan internal. “Dengan adanya peningkatan pendapatan setiap tahunnya tersebut, tahun ini kami harapannya bisa menambah pendapatan dengan peningkatan target 10 persen. Sedang untuk pendapatan keseluruhan naik 26,66 persen pada tahun 2017,” pungkasnya. (eri/oci)

Berita Lainnya :

loading...