USBN SD, Siswa Diuntungkan dengan Soal Isian


MALANG - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy memastikan bahwa pelaksanaan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) SD hanya mengujikan tiga mata pelajaran (mapel). Hanya saja, jenis soal akan berubah dengan adanya soal isian pendek.
Perubahan ini mendapat respon positif dari siswa maupun guru. Seperti diungkapkan siswa MIN Malang 1 Zaskia Nailah. Menurutnya, soal isian justru akan menguntungkan baginya. Sebab, jika jawaban yang ditulisnya salah, masih ada poin yang bisa didapatkan.
“Kalau soalnya pilihan ganda, jika jawaban salah ya gak ada poin. Tapi kalau soalnya isian, setiap langkah ada poinnya walaupun jawabannya salah,” ujarnya mantap.
Kepala SDN Kauman 3 Drs Winarto, MPd menegaskan, soal isian sebenarnya memang bukan hal baru bagi siswa. Sebab di sekolah, latihan soal lebih sering menggunakan model essay atau soal isian. Bahkan, kata dia, tidak jarang para guru mengubah soal yang awalnya pilihan ganda menjadi soal isian agar siswa lebih kritis.
“Kalau soal isian memang akan memunculkan daya pikir kritis siswa,” kata dia.
Ia berpendapat, jenis soal obyektif maupun subyektif sebenarnya memiliki keunggulan masing-masing. Soal obyektif membantu siswa agar tidak menyimpang jauh dari soal yang ditanyakan. Sementara soal isian membuat siswa makin kritis. Model soal pilihan ganda dan isian, lanjutnya, sebenarnya juga beberapa kali dipakai dalam sistem ujian akhir nasional seperti EBTANAS.
Terpisah, Persatuan Guru Republika Indonesia (PGRI) menilai adanya soal isian pendek pada ujian sekolah berstandar nasional (USBN) sekolah dasar (SD) tidak tepat. Sebab, bentuk soal isian tersebut dinilai akan memberatkan siswa.
"Sebenarnya kalau SD itu wajib belajar sembilan tahun. Jadi menurut saya, ujian itu sebagai syarat saja, tidak harus berat," kata ketua umum PGRI Unifah Rosyidi diberitakan ROL.
Dia menyepakati, esensi kurikulum 2013 mengamanatkan untuk bisa menimbulkan sikap kritis pada siswa. Namun, menurut dia, sikap kritis tersebut tidak untuk diujikan dalam USBN. Yang benar, kata dia, siswa berhak mendapatkan kualitas pendidikan yang baik yang bisa membentuk pribadi yang kritis.
"Berpikir kritis itu harus, tapi berpikir kritisnya itu tidak untuk diujikan dalam USBN pada anak SD, jadi USBN jangan sampai dijadikan alat untuk mengurangi akses anak dalam mengenyam pendidikan 9 tahun. Itu prinsipnya," tegas Unifah.
Sebelumnya, Kepala Bidang Puspendik Kemendikbud Giri Sarana Hamiseno mengatakan, akan ada soal isian pendek pada USBN SD tahun ini. "Bobot setiap butir soal isian sama dengan soal pilihan ganda. Jumlah soal isian ada empat soal, dan pilihan ganda 36 soal," kata Giri. (oci)

Berita Lainnya :