Kampus Siap Perangi Plagiasi


 
MALANG - Plagiasi menjadi masalah besar bagi lembaga pendidikan. Satu saja ada civitas yang melakukannya, lembaga bisa terkena imbas. Asesor Sertifikasi Dosen Prof. Dr. Suko Wiyono, SH MH menegaskan, sanksi terhadap plagiasi tidak main-main. Bagi individu, pencopotan gelar akademik jadi sanksinya. Tak hanya itu, lembaga asalnya juga bisa terkena sanksi berupa blacklist bagi civitas lain yang akan memroses kepangkatan maupun gelar akademik.
“Hati-hati jangan sampai melakukan plagiasi, karena sanksinya sangat berat,” ungkap Suko.
Suko menuturkan, sebenarnya lembaga sudah melakukan langkah antisipasi yang ketat untuk mencegah plagiasi. Misalnya bagi mahasiswa, mereka wajib menandatangani pernyataan bahwa karya yang dibuat adalah asli. Sementara bagi dosen, sanksi dari Kemenristekdikti juga sangat tegas. 
Rektor Universitas Wisnuwardhana ini berpendapat, mesin plagiasi yang dimiliki kampus sebenarnya tidak bisa menjadi solusi. Sebab, secanggih apapun mesin, manusia tetap jadi pengontrolnya. Sementara Wakil Rektor 1 Universitas Negeri Malang Prof. Dr. Budi Eko Soetjipto, M.Ed. M.Si mengatakan ada dua tempat di UM yang menggunakan program aplikasi anti plagiasi, yaitu pascasarjana dan perpustakaan UM.
Dengan fungsinya yang hampir sama untuk pascasarjana terkait dengan karya disertasi publis di jurnal internasional dan prosiding. Sedang untuk perpustakaan yang banyak digunakan untuk mahasiswa S1.
“Plagiasi memang menjadi masalah bagi lembaga pendidikan. Terutama untuk mahasiswa S1 yang masih dikhawatirkan banyak hasil penelitian atau skripsi yang melakukan plagiasi,” ujar Budi kepada Malang Post.
Ia menjelaskan lebih lanjut, plagiasi yang dimaksud bukanlah mengambil karya orang lain tanpa disadari. Namun karena terlalu banyaknya kutipan yang digunakan mahasiswa yang melebihi 40 kata. Sehingga secara tidak langsung karya yang dibuat akan terdeteksi dengan program software anti plagiasi Plagiarism Checker X 2015 Professional Edition yang digunakan oleh UM.
“Apa yang dikutip terlalu banyak diambil. Itu merupakan salah satu yang membuat mereka harus mendapat teguran dan memperbaiki kembali. Seharusnya apa yang mereka jadikan referensi disingkat menjadi paraphrase atau menggunkan bahasa mereka sendiri. Jadi saat di masuk program tidak terdeteksi. Kecuali untuk kutipan penting,” terangnya.
Diungkapkan lebih lanjut, untuk kesamaan yang ditolerir oleh UM sebesar 20 persen kebawah. Baik untuk dosen dan mahasiswa dengan harapan karya yang mereka ciptakan memang orisinil dan berkualitas. Selain itu, hasil dari karya yang mereka kerjakan, baik buruknya (plagiasi.red) juga akan berdampak pada lembaga pendidikan.
Saat melakukan penelitian, per 4 Januari 2018 semua mahasiswa S1 yang akan ujian sudah harus menunjukkan artikel yang telah lolos plagiasi. Untuk S2 harus ada Letter of Acceptance (LoA), sedang untuk S3 harus dimuat di jurnal internasional bereputasi scopus dan mendapat Letter of Acceptance (LoA) bernilai Q4.
“Agar mahasiswa dan dosen tidak melakukan plagiasi, UM juga melakukan berbagai upaya. Salah satunya dengan membuat kebijakan dengan  memberikan pendanaan pada dosen dan mahasiswa untuk penelitian kepada masyarakat. Termasuk konferensi internasional,” beber Wakil Rektor 1 UM ini.
Setiap penelitian yang telah di daftarkan dan diajukan pada tahun 2018 dan berhasil lolos akan didanai setiap penelitannya sebesar Rp 50-100 juta. Selain itu, dari hasil penelitian yang berhasil lolos di jurnal internasional dan rosidink akan diberikan reward. Untuk karya yang bernilai Q1 senilai RP 15 juta, Q2 mendapat Rp12 juta, Q3 bernilai Rp 10 juta dan Q4 akan mendapat reward sebesar Rp 8 juta. Sedang yang terindeks scopus akan mendapatkan reward sebesar Rp 6 juta.
“Dari reward tersebut, tentunya mereka akan mengerjakan penelitian dengan sebaik mungkin untuk menghindari adanya plagiasi. Karena jika mereka ketahuan melakukan plagiasi pertama kita akan memberikan teguran, surat peringatan, pencabutan artikel, dan pembatalan publikasi. Bagi dosen, paling berat mereka tidak akan bisa meraih gelar doctor,” tegasnya. (eri/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...