Teliti Darah Ayam untuk Pakan Burung Puyuh

 
MALANG – Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Islam malang (Unisma) mengolah limbah darah dari Rumah Potong Ayam (RPA) sebagai pakan burung puyuh. Ide ini didasari mahalnya harga konsentrat pakan burung puyuh pabrikan yang sebenarnya bisa dibuat sendiri dengan cara sederhana bahkan berbahan limbah. 
"Selama ini, pakan burung puyuh adalah konsentrat pabrik dengan kandungan protein 21-22 persen. Namun, konsentrat cenderung lebih mahal," terang salah mahasiswa Nufus Imamil Badriyah. 
Disisi lain, lanjutnya limbah darah dari RPA dapat mencemari lingkungan karena mengandung 17 lbs BOD/1.000 ekor ayam. Padahal, standar BOD per 1.000 ekor ayam hanya berkisar 0,2 lbs. Misalnya, ia menyontohkan, untuk 60 ekor burung puyuh yang digunakan pada penelitian tersebut, butuh 1,5 kg pakan per harinya. Sementara, 1 kg pakan adalah seharga Rp 8.000. 
"Berarti dibutuhkan Rp 12.000 untuk pakan 60 ekor puyuh setiap harinya," lanjutnya. 
Sementara, sambung dia, dengan menggunakan formulasi yang optimum dari hasil penelitian, yaitu 38 persen konsentrat, 15 persen polar, 35 jagung giling, 2 persen tepung dari limbah darah ayam, hanya membutuhkan Rp 9.000 untuk pakan 60 ekor buruh puyuh per hari.
"Dengan pakan campuran tepung darah, konsumsi pakan 60 ekor burung puyuh menjadi lebih baik yaitu 5.318,75 gram per 3 bulan, dan produksi telur meningkat hingga 2.450,25 gram per 3 bulan," jelas anggota tim lain, Faisol Khosim.
Selain itu, penggunaan limbah darah menjadi tepung untuk pakan burung puyuh dapat mengurangi kandungan BOD/1.000 ekor ayam dari 17 lbs menjadi 2 lbs. Sehingga, cukup baik untuk lingkungan.
"Kami harap penelitian ini tidak hanya berhenti di sini dan bisa dilanjutkan, agar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas," katanya. Selain itu, lanjut dia lagi, penelitian ini juga diharapkan bisa mengubah mindset masyarakat tentang limbah sekecil apapun limbah itu, agar bisa dimanfaatkan. (sin/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :