Rumah Layanan Disabilitas untuk Mahasiswa Difabel


MALANG - Universitas Brawijaya terus meningkatkan layanan untuk kenyamanan mahasiswa difabel selama beraktivitas di kampus. Melalui Pusat Studi dan Layanan Disabilitas(PSLD), inovasi dan terobosan baru terus dilakukan. Setelah memperbaiki akses trotoar di sekitar kampus, saat ini UB memiliki Rumah Layanan Disabilitas (RLD) yang lokasinya di sebelah selatan Gedung Samantha Krida.
Di tempat tersebut, mahasiswa difabel bisa mendapatkan layanan konseling hingga melakukan tutorial terkait perkuliahan. Fasilitas yang tersedia antara lain buku-buku dengan huruf braile, kursi roda untuk tuna daksa, hingga latihan bahasa isyarat yang diberikan secara gratis.
“Tempat ini dibangun karena melihat tingginya minat masyarakat penyandang disabilitas mendaftar menjadi mahasiswa di UB,” ujar Rektor UB Prof Dr Ir M Bisri MS pada presmian RLD, Jumat (5/1) lalu.  
Sekretaris PSLD, SlametThohari mengatakan ada 112 mahasiswa disabilitas yang menuntut ilmu di UB. Setiap mahasiswa difabel yang membutuhkan pendampingan didampingi relawan masing-masing satu hingga dua orang tergantung kebutuhan.  “Sedangkan mahasiswa disabilitas yang bisa melakukan aktivitas secara mandiri tidak didampingi seperti mahasiswa tuna rungu,” paparnya.  
Salah satu mahasiswa difabel tuna rungu Siti Nur Latifah tidak menggunakan pendamping. Namun untuk aktivitas-aktivitas tertentu seperti konsultasi atau wawancara ia menggunakan penerjemah yang mengerti bahasa isyarat.
Mahasiswa jurusan Seni Rupa Fakultas Ilmu Budaya ini sekarang sedang menempuh skripsi.  Selama mengerjakan skripsi  ia kerapkali melakukan tutorial di PSLD. Pendamping tutorial adalah mahasiswa atau alumni yang menguasai bahasa isyarat.
“Saya sangat mengapresiasi keberadaan RLD karena lebih memudahkan bila menuju UB menggunakan ojek online. Letak RLD juga strategis karena dekat dengan kantin dan masjid kampus. Ditambah lagi tempat belajar dan tutorial yang nyaman karena dindingnya dari kaca, sehingga membuat akses ke luar lebih terbuka,” ujarnya.
Untuk aktivitas konsultasi, menurut Ifah, panggilan akrabnya, juga lebih privasi. Mahasiswa difabel diberi fasilitas oleh PSLD untuk melakukan konsultasi atau curhat dengan psikolog yang telah disediakan. Seperti disampaikan Ifah, topik konsultasi bisa seputar permasalahan di kampus seperti mis komunikasi dengan dosen karena keterbatasan cara berkomunikasi atau permasalahan di rumah dengan orang tua.
Bukan hanya RLD, PSLD sudah setahun ini meluncurkan aplikasi untuk edukasi bahasa isyarat bagi masayarakat umum. Aplikasi ini bisa diunduh di Play Store dengan nama Edu Sign Languange Dictionary. Aplikasi ini dibuat atas kerjasama PSLD dan Fakultas Ilmu Komputer (Filkom) UB.
Aplikasi ini merupakan kamus bahasa isyarat yang khusus berisi istilah-istilah  ilmiah yang biasa digunakan dalam pengajaran. Kamus ini bisa digunakan bagi siswa tuna rungu maupun guru. Selain bisa diakses di play store, bisa diunduh pula di website www.psld.ub.ac.id/app/.
Bersama Filkom pula, PSLD tengah mengembangkan aplikasi pencarian relawan bagi mahasiswa difabel. Aplikasi ini nantinya bermanfaat bagi mahasiswa difabel yang membutuhkan relawan sewaktu-waktu.
Disampaikan Sekretaris PSLD, SlametThohari, terkadang ada relawan yang sudah terjadwal tidak bisa mendampingi atau sebaliknya mahasiswa difabel yang awalnya tidak dijadwalkan didampingi lalu membutuhkan pendampingan. “Dengan adanya aplikasi ini diharapkan mahasiswa difabel segera bisa mengetahui siapa relawan yang bisa mendampingi. Manfaat lain dari aplikasi ini juga bisa menjaring indeks kepuasan mahasiswa difabel terhadap pelayanan relawan di lapangan,” pungkas Slamet. (*/nda)

Berita Lainnya :