Seimbangkan Prestasi Akademik dan Non Akademik


 
MALANG - Nilai akademik memang menjadi penentu bagi siswa dalam menghantarkan meraih prestasi. Baik itu kelulusan hingga saat siswa akan meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun hal tersebut, juga harus diimbangi dengan bakat di bidang non akademik yang juga bisa menghantarkan siswa dalam mengembangkan bakatnya.
Intinya, hal hal tersebut harus ada keberimbangan. Itulah salah satu prinsip yang dipegang Kepala SMAN 6 Malang, Drs. Hariyanto M.Pd. Ia mengatakan hampir semua SMAN memiliki tujuan yang sama, yaitu mencetak lulusan terbaiknya. Namun baginya, selain nilai akademik ada hal yang terkadang dilewatkan siswa dari bakatnya di bidang non akademik. Itulah yang saat ini menjadi perhatiannya untuk memotifasi anak didiknya.
“Bagi saya, kita tidak bisa menilai siswa hanya dari nilai akademisnya. Tetapi kita juga harus melihat hal lain dari kemampuan akademik. Salah satunya adalah bakat mereka di berbagai bidang seperti olahraga dan seni,” ujar Hariyanto kepada Malang Post.
Mantan Kepala SMAN 2 Malang ini menjelaskan lebih lanjut, jika kedua hal tersebut harus diseimbangkan. Karena dinilainya untuk meraih sebuah tujuan ada banyak cara yang bisa ditempuh.
“Untuk meraih tujuan, bisa melalui bakat. Contohnya, siswa-siswi SAMN 6 Malang yang bisa meraih prestasi hingga tingkat Asia dalam bidang olehraga balap sepeda. Hal itu seharusnya menjadi motivasi dan contoh bagi yang lainnya,” terangya.
Tidak hanya dalam bidang olahraga, ia juga terus mengangkat seni tradisional yang diarahkan untuk promosi budaya lokal hingga tingkat nasional melalui student exchange yang diterapkan sejak lima tahun lalu. Bahkan, SMAN 6 Malang menjadi contoh dan rujukan bagi sekolah lainnya dalam pertukaran pelajar dengan Thailand. 
“Dari potensi non akademik itu sudah terbukti, bahwa awalnya siswa yang masuk dengan input biasa saja keluar dengan output yang tinggi. Tetapi tetap sebisa mungkin harus seimbang,” imbuhnya.
Selain itu, ia tidak pernah melakukan penggolongan bagi siswa dengan berdasarkan peringkat atau nilai. Karena, dirasanya dengan adanya kurikulum baru yaitu keterampilan abad 21, penerapan 4C yang terdiri dari communication, collaboration, critical thinking and problem solving, dan creativity and innovation tidak bisa diperlakukan dalam menggolongkan siswa menurut nilai.
“Jika kita melakukan penggolongan, penerapan 4C yang masuk dalam komunikasi dan colaborasi  tidak akan berjalan. Pasalnya setelah digolongkan tidak akan terjalin komunikasi antara yang memiliki nilai tinggi dengan yang rendah. Begitu juga dengan kolaborasi yang tak akan bisa terlaksana dengan adanaya penggolongan,” pungkasnya. (eri/udi)

Berita Terkait

Berita Lainnya :