Kembangkan Sumur Injeksi untuk Pembelajaran Biologi


 
MALANG – Konsep sumur injeksi dan biopori menjadi salah satu langkah positif yang diterapkan Universitas Islam Malang (Unisma) untuk mengatasi banjir di lingkungan Perguruan Tinggi Islam swasta tersebut. Tidak hanya sebatas untuk mengatasi banjir, hal tersebut juga dimaksimalkan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Islam Malang dengan memanfaatkan sumur injeksi dan biopori sebagai objek penelitiannya.
Dekan Fakultas MIPA Unisma, Ir. Hj. Tintrim Rahayu,M.Si mengatakan, langkah yang dilakukan Unisma dan Fakultas MIPA dengan membuat sumur injeksi serta biopori yang baru terlaksana akhir 2017 memang sangat tepat. Karena dengan membuat sumur resapan dan biopori yang saat ini tengah berjalan dirasanya bisa bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat yang ada di sekitarnya.
“Apa yang telah kita kerjakan ini merupakan hasil kerja sama dengan kampung Glintung yang telah terbukti menerapkan kedua konsep tersebut dalam mengatasi banjir yang salama ini menjadi kendala. Khusunya di lingkungan Unisma. Karena setiap musim hujan turun, di beberapa titik tertentu di lingkungan Unisma mengalami genangan air,” ujar Dekan Fakultas MIPA Unisma, Tintrim kepada Malang Post.
Dua konsep yang tengah dijalankan Unisma tersebut, diawali dari pembuatan 100 biopori dan 25 sumur injeksi yang dikerjakan beberapa warga kampung Glintung. Tak hanya berhenti pada penanggulangan terhadap banjir, Tintrim mengatakan lebih lanjut bahwa kedua konsep tersebut juga dimanfaatkan Fakultas yang dipimpinnya untuk melakukan penelitan dalam aktifitas organisme dalam prosesnya.
Dijelaskan, jika sumur resapan tersebut berdampak pada lingkungan sekitar. Pada musim hujan sumur tersebut akan menampung air hujan dan bisa dimanfaatkan saat musim kemarau tiba, air yang tersimpan bisa menyuburkan tanah dan tumbuhan yang ada di sekitarnya. Selain itu, udara di sekitar lingkungan kampus akan terasa sejuk.
Sementara itu, untuk biopori bisa dimanfaatkan bagi mahasiswa program studi Biologi sebagai bahan penelitian. Karena dalam konsep biopori, sampah organik yang di buang ke dalam lubang akan mengalami proses biologis dan menjadikan sampah menjadi pupuk kompos.
“Dari hal kecil itu, mahasiswa prodi Biologi bisa memanfatkannya untuk penelitian dan melakukan pengembangan,” bebernya.
Hal itu juga ditegaskan Ketua Prodi Biologi Unisma, Dra. Ari Hayati M.P, yang menguraikan, ada proses penyuburan tanah dari sampah dedaunan yang mengalami pembusukan akan menjadi pupuk kompos saat dimasukkan lubang bipori sekitar dua bulan.
“Dengan begitu, pupuk kompos juga bisa digunakan untuk kebun yang dimiliki oleh Fakultas MIPA,” pungkasnya. (eri/udi)

Berita Terkait

Berita Lainnya :