Manfaatkan Tanaman di Sekolah, Ajari Siswa Melukis di Atas Daun


BERADA di pinggiran kota membawa keuntungan bagi SMPN 15 Malang. Sekolah ini memiliki beragam bahan dari alam yang bisa dipakai untuk media belajar keatif.
Siang kemarin suasana salah satu kelas di SMPN 15 Malang terasa senyap. Masing-masing siswa terlihat serius di mejanya masing-masing. Uniknya, mereka tidak sedang membaca buku atau menulis sesuatu, tapi sedang memegang daun. Ya, siswa sedang melukis dengan media daun yang didapatkan dari halaman sekolah.
"Memiliki banyak pohon ketapang dan pohon karet kebo di lingkungan sekolah ternyata bisa sangat bermanfaat. Apalagi saat musim gugur kita bisa memanfaatkannya sebagai pengganti media kanvas untuk melukis," terang guru mapel Seni Budaya, Dra. Dyah Kaltar Awati.
Perempuan yang telah mengabdi sebagai tenaga pengajar selama 20 tahun ini mengutarakan, mahalnya berbagai bahan keterampilan membuat ia selalu memandang benda di sekitarnya untuk dimanfaatkan. Apalagi sebagai sekolah adiwiyata yang harus menjaga kebersihan lingkungan dari sampah dan meminimalisir limbah organik maupun anorganik.
"Dari situlah muncul banyak ide. Untuk limbah organik, kita bisa manfaatkan daun ketapang dan daun karet kebo sebagai media lukis yang diterapkan oleh oleh semua siswa. Hasilnya, selain bermanfaat juga akan menjadi kebanggan bagi siswa untuk memotivasi diri bahwa mereka bisa," terangnya.
Kreatifitas seni lukis dengan media daun yang telah diajarkan sudah dua tahun ini, dalam prosesnya ia juga mengajarkan berbagai teknik. Seperti teknik melukis langsung di atas daun dan teknik cutting atau siluet dengan mencari gambar dasar untuk kemudian ditempelkan di kertas yang berwarna kontras. Sehingga hasilnya bisa dipajang di dinding sekolah dan menambah keindahan ruang belajar.
"Tak hanya itu, hasil karya siswa juga dipamerkan ketika ada even sekolah. Seperti kunjungan tamu dari sekolah lain hingga saat orangtua pengambilan rapor. Dengan begitu, wali murid juga akan merasa bangga dengan karya-karya anaknya di bidang non akademik ini," bebernya.
Selain itu, sekolah yang memiliki identitas topeng malangan ini, juga mengembangkan berbagai karya kerajinan seperti tas dari plastik bekas, taplak dari sedotan bekas, baju daur ulang dari limbah goni hingga hiasan ruangan dari bahan dasar kertas yang tidak terpakai.
"Dari apa yang dikerjakan itu, juga ada pesan yang bisa ditangkap oleh anak-anak agar lebih menghargai alam sekitarnya. Baik dalam pemanfaatan yang berguna sehingga tidak merugikan alam, dan jika memungkinkan karya dari anak-anak memiliki nilai jual untuk dipasarkan," pungkasnya.
Bagi SMPN 15 Malang, input siswa saat masuk dalam lembaga pendidikan memang menjadi tantangan tersendiri bagi para tenaga pendidik. Sehingga kreativitas dalam metode pembelajaran harus dikembangkan oleh sekolah sekolah yang bersangkutan. Itulah yang saat ini tengah dilakukan oleh salah satu sekolah yang terletak di kawasan Dieng, Kota Malang.
Sebagai sekolah adiwiyata dengan lingkungan yang rimbun berbagai jenis tanaman dan pepohonan, hal itu bisa menjadi peluang bagi tenaga pengajar yang dimiliki sekolah untuk menumbuhkan sebuah kreativitas.
Dikatakan Waka Kurikulum SMPN 15 Malang M. Shodiq M.Pd, pengembangan kurikulum menjadi penting untuk membaca lingkungan di sekolah untuk mengajak siswa lebih aktif dan kreatif.
"Inovasi dan kreatif itulah yang harus ditangkap oleh semua guru mapel. Salah satunya guru seni budaya yang menggunakan limbah daun kering sebagai pengganti media kanvas untuk melukis," ujar Shodiq kepada Malang Post.
Dijelaskan lebih lanjut, dari pengembangan kreativitas dalam mata pelajaran seni budaya itu nantinya para siswa akan mendapat manfaat untuk diterapkan di lingkungan rumah dari apa yang didapat di sekolah. Sehingga dari input yang dirasa kurang akan menghasilkan output lebih baik saat siswa lulus.
 (keris/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :