Pejabat yang Aktif Berkarya


MEMEGANG jabatan struktural seringkali menjadi alasan dosen tak produktif dalam hal karya. Tak demikian dengan Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UM Prof. Dr. Bambang Budi Wiyono, M.Pd. Laki-laki kelahiran 14 Maret 1964 ini mengungkapkan mengabdi di dalam jabatan stuktural tidak membuatnya berhenti berkarya. Tak hanya itu, melaksanakan penelitian dan pengembangan ilmu menjadi tugas yang mesti diembannya. Sehingga apa yang menjadi tanggung jawabnya bisa ia laksanakan dengan baik.
Selain motivasi yang diberikannya kepada keluarga besar FIP UM, Sebagai dekan yang sudah tiga tahun diangkat, ia juga masih aktif menulis buku ajar. Terbukti ada sebanyak 17 buku ajar yang telah diselesaikannya. Pada tahun lalu ia juga membuat karya tentang pengembangan profesional guru yang isinya tentang konsep, hasil penelitian dan pengembangannya.
“Selain membuat buku ajar saya juga ikut dalam publikasi jurnal yang berkerja sama dengan dosen dan mahasiswa. Hal itu bagian dari motivasi agar keluarga besar FIP UM aktif dan memiliki kuantitas serta kualitas dalam menghasilkan karya, teruma yang bermanfaat bagi masyarakat,” beber laki-laki ramah ini.
“Dari jabatan yang diamanahi ini, saya juga harus mendorong dan memotivasi dosen dan mahasiswa untuk terus berkarya. Karena saya ingin menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran  inovatif dan berkualitas,” beber ayah dua anak ini.
Apa yang dilakukannya itu terbukti dengan pengembangan indeks prestasi mahasiswanya yang rata-rata 3,5. Sedang di bidang non akademik seperti kesenian, olahraga termasuk keagamaan yang memenangkan perlombaan di dalam olimpiade dan even-even tingkat nasional.
“Titik fokus saya sekarang adalah memotivasi seluruh jajaran keluarga FIP, baik untuk dosen maupun tenaga pendidikan agar kinerja kami berikan dan buat bisa bermanfaat untuk semuanya,” pungkasnya.
Menjadi seorang tenaga pendidik akan merasa sangat bangga dan senang ketika anak-anak didiknya sukses dan memiliki peran di masyarakat. Itulah kebanggaan yang dirasakannya. Sebagai guru besar UM yang baru dikukuhkan 2010 ini, tentu banyak pengalaman, cerita menarik serta visinya yang dapat menjadi contoh bagi mahasiswanya. Mengawali ceritanya di tahun 1984 di jurusan Administrasi Pendidikan IKIP Malang dan lulus pada tahun 1989 yang kemudian kembali ke tempat kelahirannya di Mojokerto selama setahun.
“Setelah lulus sarjana saya kembali ke kota asal dan mengajar selama setahun di Mayjen Sungkono SMT Pertanian, Mojokerto. Namun selang satu tahun saya diterima jadi dosen di IKIP Malang, melalui tes dengan 17 orang pendaftar,” ujar Bambang yang saat ini menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UM.
Diceritakan lebih lanjut, dari 17 orang tersebut hanya dia dan satu temannya yang diterima. Waktu itu dirasanya sangat sulit karena harus melalui seleksi tes tulis, praktik dan interview dengan tes bahasa inggris. “Serta tes kemampuan untuk prodi yang dituju, disamping kemampuan umum untuk seleksi masuk dosen. Saat itu untuk menjadi dosen belum ada persyaratan magister,” terangnya.
Hingga akhirnya pada tahun 1993 ia melanjutkan magisternya di IKIP Yogyakarta selama empat tahun dan berlanjut pada studi S3 nya pada tahun 2001 di kampusnya. Dalam prosesnya, sebagai dosen ia tidak pernah puas untuk berhenti belajar. Sehingga tidak hanya pendidikan baginya, namun juga telah banyak karya yang telah dibuatnya selama ia mengajar dan menjalankan studinya.
Sehingga dengan pengabdiannya tersebut, ia diamanahi untuk duduk dalam stuktural UM, khsusunya di FIP sejak tahun 2008 sebagai Kajur Adminstrasi Pendidikan S1.
“Berselang empat tahun saya juga merangkap sebagai kor prodi Manjemen Pendidikan untuk S2 dan S3. Barulah pada tahun 2014 saya dipercaya sebagai PD 1 di FIP,” kenangnya. (eri/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :