Kreativitas SMAN 6 Ajarkan Bahasa Jawa


MALANG - SMAN 6 Malang memberikan perhatian khusus pada bahasa Jawa. Di sekolah ini, bahasa Jawa tidak hanya dipelajari di kelas, tapi juga dipraktikkan. Menariknya lagi, praktik dilakukan dalam sebuah pementasan seni.
Cerita Ande-ande lumut kiranya tak hanya jadi legenda yang terlupakan. Tapi, di SMAN 6, kisah Panji Asmarabangun tersebut kini populer. Sebab, siswa wajib mementaskannya dalam pertunjukan bahasa Jawa. Tak hanya itu, cerita rakyat lainnya seperti  Dammar wulan, Jonggrang, Cindelaras, Rama shinta, Lutung kasarung, Situbagendit, Ciung wanara, Slendang asmara, Bawang putih dan Bawang merah juga dimainkan siswa.
Guru mapel bahasa Jawa Ratna Dewi, S.Pd mengatakan, kegiatan pentas seni dengan mengangkat cerita rakyat merupakan materi khusus yang dimiliki oleh sekolah. Tujuannya agar siswa senang, sehingga para siswa bisa diarahkan dan dikembangkan ide-ide dan kreativitasnya.
 “Dari kegiatan itu sudah terbukti dengan 10 kelompok yang terdiri dari setiap kelasnya mereka sangat merespon positif. Selain itu, setiap siswa punya peran masing-masing. Mulai ada yangg jadi sutradara, aktor/aktris, sie wardrob, makeup, properti hingga manajemennya,” ungkap Ratna.
Sehingga, lanjut dia, para siswa tidak hanya belajar untuk memproduksi sebuah pertunjukkan. Namun, segala hal yang berkaitan di luar materi yang menjadi pelajaran utama bahasa Jawa. Dengan begitu, seni tradisional yang menjadi isi dari mulok yang diarahkan dan dikembangkan dengan baik tidak hanya melestarikan budaya. Tetapi, ditambahkannya bisa mengangkat budaya lokal di tingkat nasional dan internasional.
“Kami ingin dari potensi kurikuler mulok bahasa Jawa bisa mengembangkan potensi non akademik siswa. Dengan begitu, tidak hanya teori dan praktik yang didapat, namun pemahaman akan pentingnya tradisi lokal yang ditampilkan,” tandasnya.
Kepala SMAN 6 Malang Drs. Hariyanto M.Pd mengatakan, mapel mulok bahasa Jawa yang diajarkan di sekolah merupakan kegiatan kurikuler yang bertujuan untuk mengembangkan kompetensi yang sesuai dengan ciri khas dan potensi daerah.
“Mulok menjadi penting, karena ada keunggulan tradisi budaya daerah, terutama bahasa dan cerita daerah bisa mengangkat identitas bangsa di tingkat dunia,” ujar Hariyanto kepada Malang Post.
Ia menjelaskan, mapel mulok tentunya tidak berhenti pada tataran materi bahasa Jawa. Namun harus ditindak lanjuti melalui praktik yang kemudian dipentaskan. Itulah yang saat ini tengah dilakukan oleh siswa di sekolah yang dipimpinnya. “Melalui mapel mulok bahasa Jawa, anak-anak juga diwajibkan untuk melakukan gelaran pentas seni dengan mengangkat cerita rakyat dari berbagai daerah dengan dialog yang dikemas dalam bahasa Jawa,” terangnya. (keris/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...