magista scarpe da calcio Berinovasi dengan Sepeda Ontel


Berinovasi dengan Sepeda Ontel


Malang Post, SIAPA sangka bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Ontel (PLTO) justru lahir dari tangan seorang guru Bahasa Daerah. Ia adalah Hari Prasetya S.Pd. lewat tangan kreatifnya, ia menciptakan PLTO sebagai media pembelajaran inovatif untuk siswanya.
Berangkat dengan semangat ingin menyajikan pembelajaran yang tidak terbatas pada teori saja, guru SMPN 16 Malang yang akrab disapa Hari ini menyulap barang bekas seperti sepeda ontel, generator mobil, Uninterruptible Power Supply (UPS) rusak menjadi sebuah pembangkit listrik yang dapat di manfaatkan oleh seluruh warga sekolah.
“Belajar tidak harus lewat buku saja, untuk menarik perhatian siswa, guru juga harus mampu membuat inovasi sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan lebih lancar dan bermakna,” ujarnya saat ditemui Malang Post.
Selain digunakan sebagai media pembelajaran untuk beberapa mata pelajaran, PLTO yang ia ciptakan pada tahun 2015 tersebut juga sebagai program unggulan sekolah yang sedang menuju Adiwiyata Mandiri ini. Pria kelahiran Jombang, 23 September 1972 ini mengaku bahwa sebagai seorang guru ia harus bisa menginspirasi siswanya.
“Saya ingin menginspirasi siswa saya meskipun cuma 1 dari 1000 siswa yang saya miliki, dengan demikian mereka akan terus semangat untuk terus belajar, mengingat motivasi belajar siswa kali ini terus menurun,” sambung guru Bahasa Jawa ini.
Untuk mewujudkan PLTO miliknya, sekolah menghabiskan dana sebesar Rp 3 juta. Selain menjadi program unggulan sekolah untuk menuju adiwiyata Mandiri, PLTO yang dibuat oleh sarjana lulusan Universitas Negeri Surabaya ini juga sebagai sumber energi listrik ramah lingkungan terbarukan pada saat ada pemadaman listrik.
Hari mengaku bahwa alat yang ia ciptakan bisa berfungsi sebagai sumber energi listrik terbatas.
“Biasanya saat ada pemadaman, sekolah kami tetap bisa membunyikan listrik elektrik dengan sumber energi utamanya adalah PLTO, jadi tidak perlu lagi menggunakan lonceng atau semacamnya,” paparnya.
Untuk bisa bekerja dengan baik, PLTO ini harus dikayuh paling tidak 30 menit setiap harinya. Selain terkadang digunakan oleh bapak ibu guru sebagai sarana olahraga, PLTO ini juga digunakan untuk menghukum siswa yang terlambat datang ke sekolah.
“Untuk menggerakan generatornya kan pedal sepeda harus dikayuh, biasanya yang mengayuh adalah siswa yang datang terlambat, jadi kita gunakan untuk menghukum siswa tapi juga ada manfaatnya,” pungkas sarjana Sastra Indonesia dan Bahasa Jawa ini. (mg2/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top