Satukan Langkah, Guru Empat Agama Gelar Workshop

 
MALANG - Untuk kali pertama di Indonesia, satuan guru agama Katolik,  Kristen,  Hindu dan Budha,  menyatukan langkah dalam upaya peningkatan mutu dan kompetensi guru agama. Rabu (24/1) lalu, sedikitnya ada 130 guru agama mengikuti kegaiatan workshop yang dilaksanakan di lantai 2 Gedung Aula Kantor Kementerian Agama Kota Malang. Kegiatan yang dilaksanakan hingga Hari Sabtu (27/1) ini, mendapatkan apresiasi dari Kepala Kankemenag Kota Malang, Dr. H. M. Zaini, MM. 
"Bahkan saya berani bilang workshop semacam ini baru kali pertama di dunia. Saya salut dan terharu sampai tak bisa berkata apa-apa, " ucapnya saat sambutan sekaligus membuka acara secara resmi.  
Zaini berharap kegiatan semacam ini dapat terus dikembangkan dengan melibatkan semua agama.  Termasuk Islam dan Khong Hu Cu. 
"Saya sangat terkesan guru-guru dari empat agama dapat berkumpul untuk bersama-sama memikirkan bangsa ini ke depan,  alangkah indahnya kalau kegiatan samacam ini selalu dilaksanakan," ujarnya.
Sebab kata Zaini,  tidak sedikit para guru yang masih berpikiran sempit dalam memandang bangsa Indonesia.  
"Mereka tidak melihat bangsa Indonesia dengan seutuhnya. Bahwa kemerdekaan bangsa ini melibatkan peran semua agama," kata dia.
Menurutnya  kompetensi guru agama memang harus ditingkatkan. Mengingat peran mereka sangat besar dalam mewujudkan generasi yang agamis dan berkarakter sesuai karakter bangsa Indonesia. 
"Maka kegiatan workshop semacam ini perlu dilakukan sabagai salah satu upaya untuk pembinaan para guru pendidikan agama,” imbuhnya.
Menurut pria asal Kabupaten Bangkalan ini,  hal tersebut menjadi tonggak untuk maju bersama dalam sebuah upaya inovatif yang dilakukan guru pendidikan agama. 
"Mari kita ambil posisi  sebagai guru agama yang berperan penting dalam perwujudan generasi bangsa yang berkarakter, " ajaknya. 
Sementara itu, ketua panitia workshop Mustikawangi mengatakan, selain untuk peningkatan kompetensi guru agama, dengan digelarnya workshop dapat mengembangkan program literasi dan peguatan karakter peserta didik. 
"Literasi itu tidak terbatas pada kemampuan siswa dalam membaca dan menulis,  lebih dari itu mereka juga bisa memahami lingkungan termasuk menjadi pendengar yang baik dan toleran terhadap perbedaan," terangnya. 
Pelaksanaan workshop kali ini hanya melibatkan empat agama selain Islam dan Khong Hu Cu. Dalam hal ini Mustika menjelaskan pihaknya terkendala masalah tempat.  Sementara Aula Kankemenag sangat terbatas.  
"Karena kawan-kawan guru agama Islam jumlahnya banyak. Sementara yang dari agama Khong Hu Cu sampai sekarang masih belum terdeteksi, " ucap guru SMPN 5 Malang ini.
Mustika memaparkan, ada beberapa materi yang diberikan kepada peserta selama tiga hari dilangsungkannya kegiatan. Antara lain implementasi nilai-nilai pancasila di dunia pendidikan oleh Dr. M. Zaini, MM.  Pengembangan literasi dan pendidikan karakter dalam RPP oleh Prof.  Dr.  Muhammad Amin, S. Pd M. Si.  
Selain itu ada materi penulisan karya tulis ilmiah,  analisis kurikulum, pemetaan Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) serta penyusunan perangkat pembelajaran berbasis literasi dan Program Penguatan Karakter (PPK).  (imm/sir/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :