Selamat Tinggal Sekolah Favorit

 
MALANG - Kebijakan kuota 90 persen untuk penerimaan peserta didik baru (PPDB) jalur wilayah akan menghapus stempel sekolah favorit. Sebab, sekolah favorit harus memrioritaskan siswa yang tinggal di zonanya meski nilai rata-ratanya rendah. Sebaliknya, siswa dengan nilai tinggi juga tidak bisa serta merta masuk SMP favorit jika bukan di zona tempat tinggalnya.
Kepala SMPN 3 Malang Dra. Tutut Sri Wahyuni, M.Pd, mengatakan, meski input siswa menurun, tak jadi masalah baginya.
“Bagi kami, jika penerapan jalur wilayah sebanyak 90 persen itu tidak masalah. Meskipun sekolah akan menerima siswa dengan input nilai di bawah rata-rata,” bebernya.
Jika melihat data tahun lalu, SMPN 3 menerima siswa dengan nilai rata-rata 93,85 di PPDB online. Sementara pada PPDB jalur wilayah, rata-rata nilai siswa 82,01.  Karena itu, tahun lalu, SMPN 3 yang biasanya menerima siswa dengan nilai rata-rata tertinggi di Kota Malang, di jalur wilayah tahun lalu justru kalah dengan SMPN 6. 
Senada, Kepala SMPN 6 Malang Risna Widyawati, S.Pd mengatakan, jika penurunan input nilai tidak menjadi permasalahan bagi sekolahnya. 
“Penambahan kuota jalur wilayah sebenarnya sudah akan diterapkan tahun kemarin. Namun hanya sebesar 40 persen yang terdiri dari 15 persen untuk peserta didik dari keluarga ekonomi tidak mampu dan 25 persen untuk peserta didik sesuai wilayah,” ujar Risna kepada Malang Post.
Ia menjelaskan, dengan peraturan tersebut memang berdampak pada input nilai di bawah rata-rata jalur reguler. Sebelumnya untuk jalur reguler, sekolahnya menerima siswa dengan rata-rata 90.28, sedang untuk jalur wilayah input nilai rata-rata siswa 85.25. 
“Perkara input nilai rata-rata ternyata tidak menjadi masalah. Sampai saat ini kami masih belum menemukan kendala. Karena dengan peraturan tersebut, pihak sekolah harus memiliki strategi yang lebih baik bagi siswa dengan input nilai di bawah rata-rata tersebut,” bebernya.
Selain itu, diungkapkan Risna, melihat kuota tahun lalu untuk jalur wilayah yang menyerap sebanyak 25 persen siswa juga akan melewati proses perangkingan nilai akhir dari total tiga mapel yang diujikan. Sehingga secara tidak langsung penurunan input nilai dari siswa jalur wilayah tidak jauh.“Karena dari kuota tahun lalu kita menerima pendaftar melebih kuota, hal itu juga akan membuat persaingan untuk zona wilayah juga sama ketatnya,” papar perempuan ramah ini.
Sementara itu, Kepala SMPN 5 Malang, Drs. Burhanuddin, M.Pd juga memberikan pemaparan yang sama. Burhanuddin mengatakan, memang ada penurunan nilai rata-rata input siswa pada jalur wilayah. Namun dengan adanya penambahan kuota pada jalur tersebut, semua sekolah juga akan melakukan hal yang sama dari cara pengajaran.
“Jika memang nanti kuota jalur wilayah ditambah, setiap sekolah akan semakin optimal dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar. Terutama tenaga pendidik. Dengan begitu, apa yang diinginkan pemerintah pusat dengan adanya pemerataan kualitas pendidikan akan terlaksana dengan baik dan semua sekolah akan bersaing untuk menjadi yang terunggul,” tutur Burhanuddin.
Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) ini menjelaskan lebih lanjut, misal penyerapan siswa melalui pembagian wilayah ditambah, secara tidak langsung calon siswa akan berpacu dari potensi yang dimilikinya. Dengan begitu perbedaan dari masing-masing siswa tidak akan menonjol. 
“Jadi dengan adanya penurunan input nilai siswa dari dua jalur tersebut bukanlah masalah. Tinggal bagimana setiap sekolah memiliki strategi khusus untuk mengangkat siswa dengan nilai di bawah rata-rata itu,” pungkasnya. (eri/oci)

Berita Lainnya :