FISIP Brawijaya Realisasikan Pertukaran Mahasiswa dan Dosen


MALANG – Fakultas Ilmu Sosisal dan Politik Universitas Brawijaya (UB) Malang terus menjalin kerja sama dengan dua perguruan tinggi luar negeri. Diantaranya, National Sun Yat-sen University (NSYSU) dan National Cheng Kung University (NCKU) asal China. Hubungan kerja sama yang akan direalisasikan pada 2018 tersebut, diantaranya Double Degree untuk S1 dan S2 serta Exchange Program bagi mahasiswa serta lecturer exchange bagi dosen, joint-research dan publikasi hasil penelitian.
Dekan Fisip, UB Malang, Prof. Dr. Unti Ludigdo, Ak mengatakan, program tersebut bertujuan untuk pengembangan mutu pendidikan bagi akademisi dan dosen, dan target yang akan direalisasikan pihaknya pada tahun ajaran baru ini. Dalam prosesnya, program itu akan memperoleh beasiswa dari universitas yang bersangkutan dan pemerintahannya.
“Tahun ini kita telah memanggil dosen yang sudah siap untuk melanjutkan pendidikan melalui lecturer exchange, dengan target lima dosen untuk berangkat. Kemungkinan bisa lebih dari itu, tapi melalui proses seleksi terlebih dahulu dari sana,” ujar Unti Ludigdo kepada Malang Post, kemarin.
Sedang untuk kuota mahasiswa yang menerima Double Degree dan program Exchange, setiap angkatan untuk mahasiswa S1 sebanyak 15 orang. Kuota terbatas itu dikarenakan dua kampus tersebut juga membatasi dengan realisasi tergantung dari kesiapan mahasiswa.
Tak berhenti pada pada pendidikan S2 dan S3, ia juga mendorong dosen-dosen di Fisip UB dan meraealisasikan agar dosen mengambil S3 di dua universitas tersebut. Sedang untuk join riset pihaknya akan melakukan riset bersama, terkait isu yang sedang hangat dan menarik Asia Tenggara untuk dikaji.
“Untuk pelaksanaannya kita coba gandengkan dengan dosen yang konsen dengan isu tersebut. Misalnya seperti isu politik dan TKI yang memiliki kaitan erat antara Indonesia dengan China,” bebernya.
Dengan adanya kerja sama diberbagai universitas di luar negeri tersebut, pihaknya juga akan membuka kesempatan dengan perguruan tinggi lain. Sehingga, dari akdemisi dan tenaga pengajar Fisip UB memiliki pengalaman diperguruan tinggi lain di luar negeri.
Sebelumnya, Fisip UB melakukan kerja sama dengan Newcastle University dan University of Canberra dengan konsep yang sama. Namun dalam pelaksanaannya tidak berjalan maksimal karena dari kemampuan dan latar belakang ekonomi dalam biaya sehari-sehari. Berbeda dengan lingkup Asia dengan biaya yang sama dengan Indonesia.
Selain kerja sama internasional, ia juga tidak melupakan kerja sama nasional. Seperti dalam forum dekan ilmu sosial juga membahas tentang transfer kredit antar universitas. “Kemarin kita dapat permintaan dari Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah) Riau yang mengharap sembilan mahasiswanya untuk mengambil kuliah di UB selama satu semester,” ujarnya.
Hal tersebut dilakukan dalam rangka memperkuat NKRI di bidang pemerataan pendidikan. Sekaligus pembinaan perguruan tinggi yang relatif mapan dengan perguruan tinggi baru di Indonesia, dengan wilayah terdepan terluar dan terbelakang. Sehingga secara moral, merupakan kewajiban bagi universitas untuk mengembangkan pendidikan di tempat yang tertinggal melalui mekanisme kerja sama transfer kredit satu semester. (eri/udi)

Berita Terkait

Berita Lainnya :