Angkat Isu Lingkungan dalam Pentas Seni


 
MALANG - Lihat Sampah Ayo Ambil (LISAA) adalah semangat baru yang diusung SDK Kolese Santo Yusup 3. Tema ini mewarnai agenda pentas seni, Sabtu (27/1). Seluruh siswa diberi kesempatan untuk menampilkan bakat kreativitas mereka dalam bidang seni di panggung spektakuler. Pentas seni yang merupakan agenda tahunan SDK Kolese Santo Yusup 3 menjadi wadah penyaluran bakat siswa yang selama setahun dibina oleh guru.
Sengaja tema lingkungan ini diangkat, karena SDK Santo Yusup 3 memang memiliki perhatian besar terhadap lingkungan. Kepala SDK Kolese Santo Yusup 3 Yosep Teguh Suharto, S.Pd mengatakan, pihaknya terus konsisten mengajarkan kepada peserta didik untuk dapat melestarikan lingkungan agar tetap bersih dan sehat. 
“Anak-anak perlu diajarkan sejak dini, bahwa lingkungan itu sangat menentukan terhadap hidup mereka,” ujarnya. 
Meskipun belum bergelar sekolah adiwiyata, SDK Santo Yusup 3 memiliki lingkungan yang hijau dan asri. Pepohonan yang rindang serta taman-taman kecil yang menghiasi halaman sekolah, membuat suasana sekolah ini sejuk dan nyaman. Sampah-sampah anorganik juga sudah tidak lagi terlihat. 
“Kami sudah menerapkan aturan untuk tidak membawa makanan atau minuman yang berkemasan plastik. Termasuk juga kantin sudah kami tegaskan hal serupa,” tambahnya. 
Melalui pendidikan lingkungan, para guru menanamkan nilai-nilai moral yang berimbas pada karakter. Siswa merasa bertanggungjawab terhadap rasa nyaman di sekolah. Maka, dengan tema ‘Lihat Sampah Ayo Ambil’, menjadi kalimat yang mengampanyekan lingkungan hidup. 
“Jika lihat sampah, spontan saja diambil dan membuangnya di tempat sampah. Ini mengajarkan anak untuk peka pada kondisi yang kurang baik,” katanya.  
Dengan memupuk pendidikan karakter inilah, Teguh berharap akan berimbas pada prestasi siswa. Baik prestasi akademik maupun non akademik. 
“Tekad kami ke depan yaitu membina siswa untuk semakin berpestasi,” imbuhnya. 
Pentas seni SDK Santo Yusup 3 tahun ini menjadi semakin spesial, karena juga dihadiri oleh Ketua dan Wakil Ketua Yayasan Kolese Santo Yusup. Tentu kehadiran pengurus yayasan ini membuat guru dan siswa semakin termotivasi. 
Kepada Malang Post, Ketua Yayasan Kolese Santo Yusup Rm. Agustinus Lee, CDD mengatakan pendidikan tidak harus selalu fokus pada akademik saja. Karena potensi setiap siswa tidak sama. 
“Siswa itu tidak hanya dididik secara intelektual saja, tapi juga perlu dikembangkan sensorik dan motoriknya,” ucapnya. 
Ia menilai pentas seni yang digelar SDK Santo Yusup 3 merupakan upaya yang tepat untuk mewujudkan pendidikan seutuhnya. Sebab pentas seni dapat menggerakkan cita rasa dan seni dalam diri anak. 
“Secara akademik mereka sudah didampingi dalam kelas. Maka perlu sebuah momen untuk menyalurkan kreativitas mereka sehingga menghasilkan pendidikan yang sangat positif,” terangnya. 
Menurut Agus Lee, sapaan akrabnya, dalam pentas seni juga terdapat pendidikan karakter. Seperti menuntut kerja sama yang baik antar siswa, memupuk tanggungjawab dan disiplin. terpenting adalah menumbuhkan rasa cinta terhadap seni budaya bangsa. 
“Tidak usah terlalu jauh melihat keluar, kita lihat dulu kekakayaan sekitar yang perlu kita tumbuhkan,” tuturnya. 
Konsep pendidikan yang saling menguatkan di semua aspek ini diharapkan akan memberikan dampak yang postif terhadap kualitas diri para alumni.
“Kami berharap lulusan Kolese Santo Yusup unggul secara akademik, juga memiliki kecakapan dalam hidup dan terbuka terhadap segala tuntutan dan kebutuhan zaman,” pungkasnya. (imm/sir/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :