SD Islam Mohammad Hatta, Siswa Dibiasakan Salim dan Salam

MALANG - SD Islam Mohammad Hatta sukses menggelar kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) yang diadakan selama tiga hari sejak awal pekan lalu. SD yang berlokasi di Jalan Simpang Flamboyan No. 30 ini menyebut kegiatan PLS dengan istilah Masa Ta’aruf. Kegiatan ini bertujuan untuk mempermudah siswa baru supaya mengenal lingkungan sekolah, baik lokasi, guru, maupun kebiasaan yang rutin dilakukan di SD Islam Mohammad Hatta.
 
Kepala SD Islam Mohammad Hatta Suyanto, S.Pd, M.K.Pd  mengatakan, dari metode game, program kreativitas hingga rutinitas keislaman yang dikenalkan pada siswa baru, akan terbentuk karakter yang kuat. 
“Mereka kami latih untuk mandiri, berani, bisa bekerja sama dan siap bekerja keras,” ucapnya.
Masa peralihan dari sekolah non formal TK ke sekolah formal SD menuntut anak-anak untuk siap beradaptasi dengan suasana yang baru. SD Islam Mohammad Hatta berhasil mengemas kegiatan Masa Ta’aruf menjadi menyenangkan. Metode yang diberikan berkaitan dengan kegiatan praktis, dimana siswa baru diajak untuk bermain game, mendongeng, bernyanyi bersama, bahkan observasi lingkungan sekolah. 
Melalui metode tersebut, SD Islam Mohammad Hatta ingin menanamkan nilai-nilai yang berkaitan dengan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). PPK sendiri merupakan program pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerasi) dan olah raga (kinestetik) sesuai dengan falsafah Pancasila. 
Sebagai implementasi dari unsur-unsur tersebut, maka di Masa Ta’aruf beberapa kebiasaan sekolah telah ditularkan kepada siswa baru. Diantaranya berkaitan dengan akhlak dan ibadah. Seperti adab masuk masjid, i’tikaf, berzikir, salat sunnah, membaca Alquran, berdoa dan mengucapkan salam.
Ia mengungkapkan, SD Islam Mohammad Hatta yang memiliki motto mencetak generasi yang cerdas berbingkai iman dan taqwa menerapkan kurikulum 2013 dengan bobot 25 persen pada segi keislaman praktis. 
Pria yang juga seorang konsultan pendidikan dan trainer nasional ini menambahkan bahwa kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang paling baik karena dari awal siswa diajarkan untuk tidak membeda-bedakan mata pelajaran yang bersifat dinamis. 
Program lima hari sekolah atau five days yang kini diterapkan sekolah-sekolah, dinilainya cukup efektif karena waktu kegiatan belajar mengajar di sekolah lebih lama. Sehingga penanaman pendidikan karakter akan lebih optimal. “Kurikulum 2013 diibaratkan seperti mix juice yang buahnya di campur dan tidak terlihat, namun rasanya tetap nikmat tidak seperti es buah yang masih terlihat potongan buahnya”, terang Yanto. 
Dan menurutnya, PPK bukan hanya diajarkan tetapi perlu dicontohkan secara langsung kepada siswa. Keteladanan menjadi metode pendidikan yang efektif dari sekedar teori yang berbelit-belit. Maka menjadi contoh lebih baik dari sekedar memberi contoh saja. 
“Nilai-nilai pendidikan karakter juga dapat ditanamkan secara tersirat dalam proses pembelajaran,” tukasnya. (mp1/mp2/sir/oci)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :