Lewat Puzzle, Siswa Ketagihan Belajar Matematika


KREATIVITAS Guru Matematika SDN Tunjungsekar 3 membuat siswanya jatuh cinta dengan matematika. Pelajaran yang umumnya jadi momok siswa itu justru digemari bahkan membuat siswa ketagihan.
Bermain puzzle sambil belajar matematika, hal itulah yang diterapkan Guru Matematika SDN Tunjungsekar 3, Pipit Pudjiastuti MPd MM. Untuk mengajarkan pecahan dan pohon faktor, kompetensi dalam matematika, Pipit menerapkan metode bermain puzzle. Permainan yang banyak dikenal anak dan menyenangkan. Belajar pecahan khususnya pohon faktor menjadi lebih seru seperti bermain lewat puzzle.
“Awalnya pada materi pecahan, anak-anak terlihat kesulitan, saya jelaskan ulang lewat pohon faktor biasa tapi ternyata ada yang malas-malasan, ngomong dan mainan sendiri,” ujarnya kepada Malang Post.
Guru berprestasi tingkat kota pada tahun 2016 tersebut sadar perlu adanya inovasi untuk menggugah minat belajar siswa terhadap matematika. Mengingat matematika selama ini menjadi pelajaran yang sering ditakuti oleh sebagian besar siswa. Penerapan bermain sambil belajar perlu diterapkan agar membuat siswa tidak bosan dengan pelajaran matematika.
“Dari situ saya sadar, dengan sistem belajar sambil bermain meraka harus merasa bermain tapi mendapat pengetahuan sehingga tentu perlu adanya inovasi guru dalam mengajar. Selain itu, anak usia SD motoriknya harus aktif, sehingga saya mencoba merangkai puzzle dan membuat modul pendampingnya,” tambahnya.
Puzzle matematika ini didesain dalam bentuk pohon faktor sesuai dengan materi pecahan yang diterapkan pada siswa kelas 4-6. Terdapat butiran angka berbentuk bulat berupa angka prima yang berwarna kuning dan angka bukan prima yang berwarna ungu. Puzzle dipilih karena merupakan salah satu permainan yang digemari anak. Dinilai selama ini, belajar pohon faktor dengan puzzle membuat anak menjadi lebih aktif mencoba dan berdiskusi dengan teman dalam memecahkan permasalahan yang ditemui pada soal.
“Dengan Puzzle, anak-anak lebih enjoy dan secara tidak langsung berdiskusi dengan teman, nah inilah nilai pembentukan karakter gotong-royong dan saling interaksi serta membuat mereka tentunya makin kreatif membongkar dan memasang kembali sehingga secara tidak langsung mencoba dengan soal yang disediakan,” bebernya.
Dengan metode tersebut, siswa mulai ketagihan matematika. Belajar menyenangkan dan prestasi terus meningkat sehingga siswa meminta matematika lagi dan lagi. Metode ini diterapkan selama 15 tahun yang terbukti meningkatkan prestasi siswa.
Selain puzzle, guru Matematika berhijab ini juga telah membuat inovasi pengajaran matematika tematik dengan permainan engkle. Saat ditanya akan membuat inovasi apalagi dalam pelajaran matematika, dia menuturkan akan mengedepankan berbagai permainan tradisional. Penting disadari bahwa guru membawa peran utama agar siswa enjoy belajar sehingga perlu terus inovasi agar tidak bosan.
“Saya merasa jiwa sosial anak-anak mulai luntur karena pengaruh gadget padahal sebenarnya meraka akan lebih senang belajar sambil bermain, makanya saya fokus untuk mencoba belajar sambil bermain permainan tradisional. Saya juga berharap, guru-guru matematika yang masih muda dapat mengembangkan  konsep yang sulit ke dalam permainan anak sehingga mereka tidak sadar minta belajar lagi,” pesannya. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :