PPDB Zonasi Lahirkan Sekolah Favorit Baru


MALANG - Penerapan zonasi diharapkan melahirkan sekolah-sekolah favorit baru. Sebab, siswa pintar akan tersebar dengan sendirinya di berbagai zona sesuai dengan tempat tinggalnya.
Hal tersebut diungkapkan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Hamid Muhammad ketika menghadiri acara di SMAN 8 Malang, beberapa waktu lalu. Menurutnya, PPDB Zonasi bukan menghapus sekolah favorit, melainkan justru melahirkan sekolah favorit baru.
“Sistem zonasi menjadi langkah awal mewujudkan pendidikan yang merata dan berkualitas. Jadi bukan menghapus sekolah favorit, justru akan banyak sekolah favorit baru yang muncul,” ungkap Hamid kepada Malang Post.
Terkait kuota 90 persen jalur wilayah yang akan diterapkan tahun ini, menurutnya sebenarnya sudah diberlakukan pada 2017. Namun karena masih tahap awal sehingga masih ada sekolah yang belum melaksanakannya.
Seperti diketahui, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengatur PPDB dalam  Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017. Dalam pasal 15 aturan tersebut ditegaskan, sekolah pada setiap zona wajib menyerap 90 persen dari total daya tampung peserta didik baru yang bertempat tinggal di dekat sekolah.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyatakan, sistem zonasi seluruh pinas pendidikan se-Indonesia diharapkan dapat konsisten dalam menerapkan kebijakan pengelolaan pendidikan berbasis zonasi.
“Jadi sekarang zonasi sifatnya wajib. Kalau tahun lalu masih sosialisasi, jadi pemerintah daerah masih diberi kelonggaran untuk menerapkan zonasi atau tidak. Ruh dari penerapan sistem zonasi ini adalah terciptanya pendidikan yang merata dan berkualitas, sebagai wujud merealisasikan kebijakan Bapak Presiden,” tutur Mendikbud diberitakan Pikiran Rakyat.
Ia menyatakan, zonasi akan menghilangkan dikotomi antara sekolah unggulan dan nonunggulan. Menurut dia, selama ini, pihak sekolah seolah-olah dikompetisikan oleh peraturan pemerintah. Padahal, semua sekolah mendapat bantuan dana dari pemerintah, baik dari provinsi atau pun kabupaten/kota.
“Iklim kompetisi ini dibiarkan bertahun-tahun. Itu tidak boleh dikompetisikan, karena menggunakan uang rakyat. Sekolah yang kuat dan diisi anak-anak dari ekonomi atas, jadi mendominasi. Pemerintah tidak ingin terjadi diskriminasi dalam dunia pendidikan. Zonasi akan menghilangkan diskriminasi itu, sekolah tidak boleh menerima siswa hanya dengan melihat nilai akademik. Siswa yang memiliki nilai tinggi dapat sekolah yang favorit, sedangkan siswa yang tidak memiliki nilai tinggi mencari sekolah di tempat yang nilainya di bawah sekolah favorit. Ini tidak boleh terjadi lagi,” ujarnya. (oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...