Nyambi Bisnis Batu Permata


 
Di balik kesibukannya sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Dra. Zubaidah MM juga memiliki bisnis sampingan. Yaitu menjual batu permata. Koleksi yang dimilikinya pun tak hanya unik, tapi juga menarik. Terbukti, bisnis itu tetap lancar hingga sekarang.
Kepada Malang Post, Zubaidah mengatakan bisnis batu permata ini digelutinya sejak dia kuliah. Saat itu banyak teman-temannya pesan batu permata kepada dirinya yang asli Kalimantan.  “Dulu waktu kuliah sering bawa oleh-oleh batu permata. Banyak teman yang suka. Dan saya pikir itu adalah sebuah peluang bisnis,” kata alumnus UNS ini.
Seiring waktu, bisnis batu permata yang digeluti Zubaidah kian banyak diminati. Warga tak sekadar memesan batu biasa, tapi memesan permata jenis batu mulia. Meskipun sempat was-was dan merasa khawatir, namun Zubaidah memilih nekat menggeluti. Bahkan sampai saat ini.
“Alhamdulillah, banyak yang suka dengan koleksi-koleksi yang saya miliki,” ujarnya sembari tersenyum. 
Dia menyebutkan, batu permata yang telah dikemas dalam perhiasan cincin, liontin, atau giwang tak hanya dijual kepada para guru, tapi juga rekan bisnisnya yang lain. Harga yang ditawarkan pun relatif.
“Kalau barangnya bagus, dan perhiasannya emas, harganya pun mahal. Tapi kalau barangnya biasa dan perhiasan pengikatnya juga bukan emas, harganya miring,” katanya.
Dia cukup memahami etika dalam bisnis. Artinya, ibu tiga anak ini mau menerima kembali barang yang dibeli pelanggannya. Syaratnya hanya dia memotong 10 persen dari harga jualnya.
“Makanya kalau harganya mahal sekali kan, saya bisa membelinya lagi dengan harga mahal pula. Itu sebabnya, harga yang saya tawarkan standart,” ungkapnya.
Ditanya harga paling murah, Zubaidah pun tersenyum. Dia memilih menunjukkan foto-foto koleksinya. Dimana masing-masing permata itu telah terpampang juga harganya. Diantaranya Rp 20.3, Rp 23, dan Rp 30.
“Harganya juta, kalau harganya Rp 20.3, ya Rp 20 juta 300 ribu,” tuturnya.
Kendati bisnisnya cukup lancar, Zubaidah mengaku tak pernah mengganggu kegiatannya sebagai kepala dinas. Terbukti, dia cukup all out.
“Prioritasnya tetap bekerja sebagai abdi negara. Kalau ini kan sambilan,” kata wanita yang menjadi PNS sejak 1983 ini. 
Dia pun mengaku bisnis yag digelutinya saat ini menjadi modal pensiun bagi dirinya.
“Kalau pensiun nanti, saya tak hanya diam. Ada kesibukan ini,” pungkasnya. (ira/udi)

Berita Terkait

Berita Lainnya :