Ajarkan Akhlak Lewat Dongeng


RAJA Dongeng menjadi predikat yang melekat pada sosok H. Rokhmad S.sos. Bertahun-tahun kepala SD Plus Qurrota A’yun ini meramaikan dunia pendidikan di Kota Malang khususnya Pendidikan Anak Usia Dini dan sekolah dasar.
Kepada Malang Post  ia mengatakan, tahun 2015 lalu,  dalam sebuah muktamar para pendogeng muslim bersepakat,  kata 'pendongeng' diganti dengan istilah juru kisah.
"Karena antara dongeng dengan kisah itu berbeda. Dongeng biasanya menceritakan hal yang fiktif, sedangkan kisah diangkat dari cerita nyata," ungkapnya.
Oleh karenanya, Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia (PPMI)  sepakat tidak memakai istilah pendongeng.
"Kami tidak ingin membual atau berdusta pada anak-anak.  Bahwa apa yang kami ceritakan pada mereka adalah cerita islami yang penuh makna," kata dia.
Mengenai pengalaman hidupnya, Rokhmad mengaku mulai mengembangkan kemampuan bercerita sejak tahun 2000. Artinya sudah 18 tahun ia berkecimpung di dunia pendidikan anak.
Deretan piagam menghiasi dinding ruangan kerjanya. Termasuk beragam tropi penghargaan berjejer di atas rak lemari di kantor  Yayasan Qurrota A'yun. Itu menandakan, segudang prestasi telah berhasil dicapai oleh Kepala SD Qurrota A'yun ini.
Prestasi Rokhmat mulai mencuat di tahun 2004, saat dirinya meraih juara 1 lomba dongeng tingkat Jawa Timur. Berkat prestasi itulah ia kemudian dipercaya pemerintah provinsi untuk menjadi instruktur pendongeng di berbagai kota di Jatim.
"Alhamdulillah itu merupakan karunia dari Allah, " ucapnya.
Tahun 2007 prestasinya makin meningkat dengan memenangkan lomba dongeng umum yang diadakan oleh Book Fair Surabaya. Rokhmad menuturkan, ada yang membuatnya senang di setiap kali menyampaikan cerita atau kisah pada siswa. Ia merasa telah memberikan sebuah pelajaran yang begitu berharga melalui cerita yang disampaikan.  
"Apalagi kisah-kisah Islam, karena sepertiga dari Alquran berisi kisah," terangnya.
Menurutnya,  berkisah merupakan salah satu metode yang efektif dalam mengajarkan akhlak pada anak-anak. Pendidikan karakter yang tengah dikembangkan saat ini,  sangat tepat jika diselingi dengan pengajaran dengan metode cerita kisah.
"Untuk anak-anak, kisah itu sangat menyenangkan mereka. Guru mendapatkan pahala besar jika mampu mengisi hati anak yang jiwanya masih bersih dengan nilai-nilai Islam," ujar Ketua II PPMI ini.
Ia juga berharap,  kemampuan bercerita bisa dimiliki oleh setiap guru PAUD,  TK atau SD. Sebab guru harus bisa bermain, cerita dan menyanyi.
"Kalau sudah begitu guru akan dicintai murid, disukai orang tua murid,  demikian juga sebaliknya," ujar Rokhmad.
Ia menekankan, dongeng harus mengandung nilai-nilai moral dan spiritual. Keduanya merupakan muatan sangat penting, di samping penguasaan teknik mendongeng agar anak tertarik. Rokhmad berbagi tip teknik mendongeng yaitu vokal, intonasi, gesture, mimik, cerita dongeng, dialog antar tokoh, serta penghayatan peran tokoh.
Pria yang juga berkali-kali diundang ke berbagai perusahaan dan perguruan tinggi ini, juga mengimbau agar guru tidak bosan untuk menambah ilmu dan keterampilan.
"Teruslah berusaha, untuk memberikan yang terbaik bagi siswa kita. Man jadda wajada," pungkasnya.  (imm/oci)