magista scarpe da calcio Ajarkan Siswa Produksi Film, Jadi Alternatif Ketika Bosan di Kelas


Ajarkan Siswa Produksi Film, Jadi Alternatif Ketika Bosan di Kelas


BELAJAR dengan menonton film, tentu sangat menyenangkan. Berawal dari ujian praktik pembuatan film, kini SMPN 17 Malang melahirkan banyak film-film khas anak muda. Karya tersebut bahkan menjadi tontonan ketika pembelajaran di kelas.
Inisiatif membuat film dan kemudian ditonton saat kegiatan belajar tersebut bermula dari ujian praktik Mapel Seni Budaya klas IX SMPN 17 tahun 2013 lalu. Dijelaskan oleh Guru  Seni Budaya SMPN 17 Malang Muhammad Yudi Bachtiar S.Psi bahwa ujian praktik pembuatan film tersebut adalah pengembangan dari Mapel Seni Budaya, utamanya seni teater dan drama.
“Awalnya ini merupakan ujian praktek untuk penilaian sebelum kelulusan. Ternyata setelah berjalan apa yang mereka kerjakan juga bermanfaat bagi adik tingkatnya dalam proses belajar mengajar,” ujar laki-laki yang akrab disapa Yudi kepada Malang Post.
Dijelaskan lebih lanjut, dari karya yang dibuat oleh siswa klas IX, ternyata saat diaplikasikan kepada adik tingkatnya mendapat manfaat yang sangat positif. Karena, pembelajaran melalui audio visual atau film akan lebih mengena dan mudah diterima pesannya.
“Dari menonton film, bisa menjadi alternatif bagi anak-anak saat mereka merasa bosan dengan KBM yang bisanya berjalan secara formal. Apalagi film yang ditonton hasil karya dari mereka atau kakak tingkat mereka,” terangnya.
Selain lebih mengena dalam KBM, ia menambahkan jika ada rasa bangga dari siswa yang telah membuat karya film tersebut. Karena film yang dibuat para siswa sudah dikonsep dan isinya berisi pesan moral dan mendidik.
“Film yang anak-anak buat tentunya harus mengedukasi, seperti kenakalan siswa yang terlibat tawuran, narkotika, petualangan hingga film bergenre horror,” bebernya.
Dari berbagai genre yang dibuat dalam ffilm pendek yang berdurasi 10-15 menit itu, diungkapkan Yudi, ada banyak mamfaat lainnya yang didapat siswa. Secara tidak langsung siswa akan lebih aktif. Itu karena dari proses awal hingga akhir semua terlibat dalam pembuatan. Mulai dari pemilihan ide, sutradara, pemeran, latihan, pengambilan gambar, fhinising atau editing hingga untuk cover dan biaya dari siswa sendiri. Sementara dari guru hanya mengarahkan teknik pengambilan gambar dan editing.
Tak hanya, dalam pelaksanaannya siswa sangat total dalam mengerjakan yang dilakukan selama empat bulan di luar jam pelajaran sekolah. “Bahkan untuk setting tempat ada yang sampai menggunakan kamar ruang rumah sakit, cafe dan beberapa tempat lainnya. Hal itu menjadi nilai tersendiri. Begitu juga dengan peralatan yang mereka gunakan hanya menggunakan ponsel mereka bisa menghasilkan karya yang bermanfaat dan tetunya mengedukasi,” kata lulusan UMM tahun 2000 ini.
Melalui karya film pendek dari siswa SMPN 17 Malang tersebut, Yudi berharap ada bekal bagi siswanya saat lulus dari sekolah dari praktik pembuatan film. Selain itu, mereka juga meninggalkan manfaat bagi adik tingkatnya dari film yang mereka buat. (keris/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang