Faperta Unisma Wujudkan Healty Agri Culture


MALANG - Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Islam Malang (Unisma) tengah mengembangkan program Agro Technopreneur. Program ini merupakan salah satu motivasi Fakultas Pertanian untuk mewujudkan Healty Agri Culture.
Agro Technopreneur berarah pada dua bidang, yakni agribisnis dan budi daya tanaman.  Dekan Fakultas Pertanian Unisma, Dr. Ir. Nurhidayati, MP menjelaskan, agribisnis merupakan bidang pengolahan hasil pertanian. Arahnya pada bisnis dan pemasaran.
"Di bidang ini kami mengajarkan dan melatih pada mahasiswa untuk bisa mengembangkan bakat mereka dalam berwirausaha. Tentu melalui hasil pertanian," ucap Nurhidayati.
Sejauh ini, kata dia mahasiswa pertanian khususnya dari prodi Agribisnis telah berhasil menciptakan aneka macam produk hasil pertanian. Salah satunya jus buah yang kini mulai dipasarkan. Nurhidayati berharap melalui program Agro Technopreneur tersebut mahasiswa dapat mengembangkan secara mandiri usaha di bidang produksi pertanian. "Sementara memang masih untuk kalangan mahasiswa sendiri. Mahasiswa biasanya memproduksi banyak kalau ada pesanan. Untuk memperluas ke luar kampus, kami masih membangun jaringan dengan beberapa pihak," imbuhnya.
Ia juga mengatakan, di Prodi Agrobis diajarkan muatan sosial dan ekonomi pertanian.  Sehingga mahasiswa tidak hanya handal dalam bidang entrepreneur tetapi juga bisa menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat. “Latihannya saat kita bimbing mereka dalam kegiatan penyuluhan di bidang pemberdayaan masyarakat,” tuturnya.
Adapun Agro Technopreneur di bidang budi daya tanaman dikembangkan secara spesifik oleh Prodi Agro Technologi.  Sistem budi daya ini dimulai dari pengolahan tanah, sampai menanam, pemeliharaan dan menghasilkan tanaman atau produk pertanian yang benar-benar berkualitas tinggi.
Oleh karenanya, perlu dilakukan inovasi yang berarah pada peningkatan produksi dan kualitas hasil pertanian.  Sebagai terobosan, dosen dan mahasiswa membuat rekayasa kompos dengan nilai gizi yang tinggi. Inovasi tersebut merupakan bentuk dari manajemen nutrisi dalam tanah. Pupuk yang diciptakan memiliki kandungan anti oksidan yang tinggi. “Rekayasa pupuk ini menjadi inovasi yang berarah pada peningkatan produksi dan kualitas hasil pertanian. Sehingga hasil tanaman yang dikonsumsi manusia memiliki nilai gizi yang tinggi,” terangnya.
Rekayasa pupuk dilakukan berdasarkan kenyataan bahwa pupuk hasil buatan pabrik, mengandung zat kimia yang ternyata menghambat pertumbuhan tanaman. “Dan parahnya lagi berpengaruh pada hasilnya,” imbuh Nurhidayati.   
Selain itu, kelebihan lain dari kompos alami buatan mahasiswa Fakultas Pertanian Unisma memiliki nilai efesiensi yang tinggi. Dengan biaya yang lebih murah bisa membuat kompos dari bahan-bahan limbah alami.  Kendala yang ditemukan selama ini hanya dalam upaya penyadaran kepada para petani. Merubah mainset petani untuk beralih dari pupuk pabrikan ke pupuk alami menjadi tantangan tersendiri. “Alasannya pasti masalah alat. Untuk membeli alat pembuat kompos seperti yang dihasilkan kami butuh sekitar Rp 5 juta,” tandasnya. (imm/adv/aim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :