IKIP Budi Utomo Malang Go Internasional


INDONESIA akan mengirimkan sejumlah mahasiswa calon guru untuk mengajar di Thailand. Dari sekitar 20 mahasiswa se-Indonesia, tujuh di antaranya adalah mahasiswa IKIP Budi Utomo Malang. Selama satu bulan, mahasiswa yang juga calon guru itu akan mengabdi di sebuah kota kecil di Thailand. Kemarin, (25/1/19), bertempat di Kampus C, mereka diberangkatkan Rektor IBU Dr. Nurcholis Sunuyeko, M.Si.
Tepuk tangan riuh dari ratusan mahasiswa yang akan berangkat kuliah kerja lapangan (KKL) membahana ketika sang rektor melepas mahasiswa yang akan magang ke luar negeri. Raut bahagia juga terlihat dari para peserta internship salah satunya Khumairil Maulida. Mahasiswa semester lima ini mengaku bangga bisa lolos seleksi program internship Indonesia-Thailand. Betapa tidak, ketika temannya yang lain akan praktik mengajar di Indonesia, ia bisa punya kesempatan ke luar negeri. Pengalaman pertama baginya terbang ke negara lain.
“Baru kali pertama ini ke luar negeri, Alhamdulillah paspor sudah selesai diurus,” kata dia.
Untuk bisa mengikuti program internship ke Thailand ini, ia harus mengikuti tahapan seleksi yang tidak mudah. Apalagi harus bersaing juga dengan mahasiswa dari kampus yang lain.
“Saya di tes mengajar dan tes mengaji juga, karena di Thailand nanti mengajarnya di yayasan Islam,” ungkap Khumairil.
Karena dari jurusan bahasa Indonesia, Khuma, sapaan akrabnya, juga akan mengajar bahasa Indonesia di Thailand, tepatnya di Lukmanul Hakeem Foundation, Yala. Berdasarkan informasi yang didapatkannya, siswa di yayasan tersebut mayoritas adalah penduduk asli Thailand. Siswa yang akan diajarnya menggunakan bahasa Melayu dan bahasa asli Thailand dalam percakapan. Karena itulah, ia mulai memperbanyak belajar kosakata Thailand agar mudah berkomunikasi nanti.
“Bahasa Melayu sebenarnya mudah dimengerti karena mirip bahasa Indonesia, apalagi ada kamus online yang juga bisa dimanfaatkan membantu komunikasi nanti,” ungkap lulusan MAN 2 Batu yang juga punya bakat MC ini.
Pengalaman dan tentunya sertifikat internasional, diakuinya akan jadi bekal penting ketika lulus dan jadi guru. Tak hanya itu, mahasiswa 22 tahun ini juga berharap bisa menemukan ide skripsi selama di Thailand.
“Saya ingin meneliti apa kendala orang-orang Melayu belajar bahasa Indonesia,” ujarnya singkat.

Berita Terkait

Berita Lainnya :