Inovasi Umbi Garut Jadi Beras Analog


MALANG – Umbi garut yang dapat tumbuh di lingkungan terbuka, bahkan mudah tumbuh di bawah tanaman lain ternyata memiliki khasiat sebagai sumber karbohidrat yang masih minim dimanfaatkan masyarakat. Kelebihan ini menjadi daya tarik umbi garut sehingga Lab Ilmu dan Teknologi Pangan FPP UMM mencoba mengolah patinya menjadi beras analog.
“Umbi-umbian adalah sumber karbohidrat yang potensial untuk dioptimalkan menjadi beras analog dari umbi garut yang diekstraksi,” ujar Kepala Lab Ilmu dan Teknologi Pangan FPP UMM, Dr.Ir. Damat, MP yang ditemui Malang Post kemarin.
Damat membeberkan, konsumsi beras di Indonesia tertinggi nomor dua setelah Bangladesh karena setiap orang membutuhkan 130 kg per tahunnya. Saat produksi beras fluktuatif, sementara kebutuhan konsumsinya terus tinggi akan mengakibatkan potensi kerawanan ketahanan pangan nasional.
“Selain karena kandungan umbi garut yang patinya 20% rendemen dengan kelebihan umbi garut yang dapat tumbuh di lingkungan terbuka bahkan di bawah tanaman lain. Sehingga lebih mudah didapatkan dan diekstraksi,” ungkapnya.
Tak hanya mengambil sumber karbohidratnya, umbi garut diekstraksi dengan buah naga untuk memperoleh khasiat lebih melalui antioksidannya. Sedangkan untuk memperoleh khasiat bethasianidin didapatkan dari ekstrasi wortel. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang saat ini mulai cerdas memilih makanan sehat.
“Antioksidan dari buah naga dapat menekan penyakit degeneratif (bawaan) seperti diabetes mellitus dan jantung koroner. Sehingga beras ini dapat dikonsumsi rutin untuk menekan penyakit tersebut,”tandasnya.
Namun beras analog berantioksidan dan bethasianidin ini, masih terus dikembangkan oleh civitas akademika UMM khususnya dalam hal efek fisiologisnya. Lebih spesifik lagi, terkait dampak kesehatan bagi orang yang mengonsumsi khususnya penderita diabet.
“Kedepan akan diujicoba pada tikus yang dikondisikan terkena diabet, kemudian akan diberi makan beras ini secara periodik. Selanjutnya akan diamati tingkat gula darahnya. Sehingga akan ditemukan rumus tepat bagi penderita diabet harus mengonsumsi beras analog ini berapa banyak,” ulas pria yang pernah menjabat Dekan FPP UMM tersebut.
Tak berhenti sampai sini, penelitian juga akan dilanjutkan dengan pengolahan beras analog untuk anak-anak. Hal ini akan disesuaikan dengan tingkat kebutuhan konsumsi anak-anak, mengingat selama ini anak-anak kurang menyukai makan sayur dan buah.
“Problemnya, anak-anak sekarang mengalami defisiensi atau kekurangan vitamin A dan tidak suka makan sayur serta buah. Padahal sayur dan buah sangat dibutuhkan bagi tubuh, sehingga kedepan kami juga akan mengolah beras analog khusus anak-anak yang dapat memenuhi kebutuhan serat dan vitamin mereka, meski beras rasgadan dan rasganin ini juga dapat dikonsumsi mereka,” imbuh pria asli Batu ini. (mg3/oci)

Berita Terkait

Berita Lainnya :