Jiwa-jiwa Sosial Lahir dari Bangku Sekolah


MALANG - Az-Zahra Nayla Putri Fahmi, siswa kelas V di SDIT Ahmad Yani dikenal sebagai sosok siswa yang baik dan mandiri. Seperti halnya siswa yang lain, setiap pukul 06.30 WIB, ia sudah sampai di sekolah.Tidak ada kata terlambat, setiap saat ia harus tepat waktu melakukan apapun. Termasuk jam masuk sekolah, karena guru di SDIT Ahmad Yani selalu menekankan untuk bersikap disiplin.
"Karena untuk sukses kita harus berdisiplin. Harus dari sejak kecil agar terbiasa sampai besar," katanya.
Untuk itu, Nayla harus selalu bangun pagi. Pukul 06.00 WIB, ia sudah siap berangkat sekolah. Itu artinya saat itu ia telah melaksanakan kewajibannya membantu orang tua membereskan rumah.  
"Saya diajarkan begitu oleh orang tua, agar menjadi contoh buat adik," ujar anak pertama dari tiga bersaudara ini. 
Sama seperti teman-temannya, berangkat sekolah, Nayla juga mendapatkan uang saku dari orang tuanya untuk jajan. Setiap hari ia mendapatkan Rp 5.000. Uang sejumlah itu tidak lantas dihabiskan begitu saja. Ia menyisihkan sebagaian uang sakunya untuk diamalkan. Terutama setiap hari Jumat. Kadang Rp 2.000, Rp 3.000 atau bahkan ia sama sekali tidak jajan untuk mengamalkan uang sakunya.
Karena guru di sekolah mengajarkan padanya untuk selalu menjadi pribadi yang suka menolong dan peduli sesama.
"Tidak apa-apa jajannya sedikit saja, karena masih banyak yang orang yang perlu kita bantu. Apalagi saya dan teman-teman bawa bekal dari rumah," ucap siswa yang dikenal jago mendongeng ini. 
Di SDIT Ahmad Yani, setiap hari Jumat ada program amal. Dimana siswa dianjurkan untuk menyisihkan uang jajan mereka. Program ini sebagai wadah melatih siswa untuk gemar berinfak dan bersodaqoh. 
Secara tidak langsung program ini melahirkan rasa syukur pada diri seseorang. Tak terkecuali bagi siswa-siswi SDIT Ahmad Yani, yang istiqomah beramal. Sikap syukur diungkapkan melalui sikap rela hati dalam membantu sesama.

Berita Lainnya :